Minggu, 26 Februari 2012

Dunia Memang Benar Berputar

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 06.46
Reactions: 

          Kali ini, gue akan menggunakan kata “saya” sebagai kata pengantar karena pada postingan kali ini akan sedikit lebih serius. Saya ingin menceritakan kejadian yang benar-benar terjadi dalam hidup saya, dan saya serta anda bisa menjadikan ini sebagai pelajaran atau sebagainya.
          Pada awalnya, saya ingin menceriatakan realita yang terjadi kepada keluarga besar saya. Keluarga besar saya di Jakarta, terdiri dari Nenek, Kakek (yang saya panggil sebagai engkong) ke-4 anaknya, ke-4 menantunya, serta ke-6 cucunya, termasuk saya.
          Nenek saya memiliki seorang adik yang mungkin sekarang berusia 40-an, yang saya samarkan namanya menjadi Ibu Ami. Ibu Ami memiliki seorang suami bernama (lagi lagi saya samarkan menjadi) Pak Rio, dan ke-3 orang anak yaitu, Kak Ira (sekitar 17 tahun), Kak Riza (21 tahun) dan Ka Arin (30 tahun) ketiga nama anaknya pun saya samarkan. (umurnya sekarang)
          Kehidupan mereka sangat berkecukupan, sangat kaya, sering gonta-ganti mobil dsb. Tapi, Ibu Ami dan keluarganya lupa dengan Nenek saya. Mereka jarang bersilaturahmi, keluarga besar kami-pun menjadi enggan dan sedikit kecewa.
          Pada waktu itu, juga pernah saat ingin menunjukan mobil barunya, Ibu Ami dan Om Rio ingin menunjukan mobil barunya kepada keluarga besar saya (berdasarkan cerita nenek) mereka mengajak nenek pergi. Tapi? Mereka justru meninggalkan nenek di depan rumah mereka, Sangat membuat keluarga kami kesal, dan sedikit marah. Ini bukan rekayasa, dan memang adanya terjadi.
          Waktu itu, keluarga mereka sangat membanggakan keluarga mereka, dan memamerkannya kepada keluarga saya. Memang saya akui mereka dalam keadaan jaya. Om Rio mempunyai pekerjaan yang sangat pantas untuk dibanggakan. Keluarga besar saya hanya bisa mengelus dada. Kami mencoba bersikap biasa saja. Sampai suatu saat, nenek saya pernah bilang kepada anaknya, Om Ipul. Saya ingat nenek pernah bilang,”Biarin aja keluarga kita kayak gini dulu, makanya kamu jadi orang yang sukses, anak mama satu-satunya yang kuliah kan cuma kamu, nanti kalau kamu sukses, kamu bisa beli mobil,” Om Ipul hanya menjawab,”Iya Amiiiii,” (Ami panggilan Om saya untuk nenek saya). Saya-pun termotivasi untuk membahagiakan nenek, jika beranjak remaja nanti (kala itu saya berumur 10 tahunan).
          Tapi waktu semakin berlalu, Ibu Ami kini sering main ke rumah nenek saya, setelah saya dengar-dengar ternyata, Om Rio pergi meninggalkan Ibu Ami, siapa sangka? Saya berfikir,”Giliran kaya? Lupa sama keluarga kita. Giliran mau cerai baru inget sama nenek,” tapi keluarga kami tetap senang hati menerimanya.
          Semakin hari, keluarga Ibu Ami, semakin tak karuan Om Rio pergi meninggalkannya, mobil-nya dijual, rumah-nya juga dijual, anak bungsu-nya sempat berhenti sekolah, dan mereka tinggal di kontrakan. Ini sangat patut dijadikan pelajaran.
          Keluarga kami mencoba menerima dan melupakan segala kesombongan Ibu Ami dan keluarganya. Hingga kami akrab lagi, tapi tidak dengan situasi yang sama. Lama kelamaan pula, Om saya membeli mobil untuk membuktikan bahwa keluarga kami juga bisa, dalam artian bukan sombong. Sekarang seperti terbalik keluarga Ibu Ami minus Om Rio yang justru sering meminta bantuan kepada keluarga besar kami. Kami tak menyesali semua yang telah terjadi.
          Dan satu berita yang mengejutkan keluarga besar saya akhir-akhir ini, Ibu Ami mengidap penyakit kanker yang sudah parah. Baru sabtu kemarin kami sekeluarga besar menjenguknya ternyata benar. Kini Ibu Ami tinggal di rumah nenek saya. Siapa sih yang mikir kalau endingnya bakal kaya gini? Tapi ini bukan ending, kehidupan masih terus berlanjut, atau mungkin roda kehidupan masih terus berputar lagi.
          Dan yang terpenting, yang dapat kita ambil dari kisah tadi seperti kata kakek saya,”Tuh, liat kita ganyangka kan? Dulu keluarga kita seakan-akan dibawah mereka? Tapi sekarang? Makanya nih buat cucu cucu engkong, mau sekaya apapun kalian, kalian gaboleh sombong, yang namanya saudara ya tetep saudara, saling dibantu, kalo misalnya nanti nenek sama engkong udah gaada, tetep kaya gini, harmonis.” Cukup bijak bukan? Saya bangga memiliki kakek seperti beliauJ. Kisah diatas benar-benar terjadi, tak ada rekayasa sedikitpun, benar-benar terjadi dalam hidup saya.
*****


Saya menulis cerita diatas pada tahun 2012. Dan kini semua itu berkelanjutan membentuk ending dari seluruh perjalanan hidup Ibu Ami, belum lama pada tahun 2013 Ibu Ami menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan sisa-sisa penderitaan yang di wariskan kepada anaknya.
Anak pertamanya hidup susah membiayai satu anaknya, anak kedua menjadi pengangguran dan menjalin kasih dengan seseorang yang berbeda agama, anak ketiganya masih bersekolah dan menunggak bayaran beberapa bulan.
Hidup ini gak bisa di duga, gak bisa di tebak. Awal maupun akhirnya, semoga Ibu Ami tenang di alam sana.
“Hidup itu seperti ombak. Gak pernah stabil. Kadang pasang naik-kadang pula pasang surut.” - salsabila

6 comments:

Sang Manyar mengatakan...

Begitulah idup. Sekali kita lupa diri, kesuksesan kita bakal bikin kita jatuh sejatuh-jatuhnya jatuh. Hehehe... Nice blog cuma kalo bisa ini sidebar kiri dilebarin supaya arsipnya nggak impit2an kayak gitu. Juga Gadget share di atas itu kok kurang pas ya rasanya. Bikin jelek template. Kalo ditaruh di bawah posting Insya Allah lebih bagus lagi. Ditunggu ya kunjungan baliknya @ http://jejak-sangmanyar.blogspot.com/

Salam kenal :)

salsabila tantri ayu mengatakan...

@Sang Manyar: wah salam kenal juga ya:) tapi, saya susah ngeditnya lagi? gimana dong? sip saya visitback ko:)

Dita Mignonesia mengatakan...

money, money, money :)

Paling bagus sih kalau kita bisa bercermin dari hidup orang disekitar kita, untuk mengingatkan diri sendiri supaya jadi orang yang lebih baik itu az comment saya, gk berani menilai si A begini si B begitu, ketika satu jari kita menujuk ke arah orang lain, tiga jari kita menujuk kearah kita.

Btw back groundnya cute ea: motif dan warnanya kek kaos Ouval ku yang dulu dweh hehehe. Warna abu dicombo sama ungu emang gk salah. Setuju sama comment Sang Mayar, sidebar kiri kanan kok sempit ea? page width nya dibikin 1300 coba, maxnya sih 1500. Biar lebar spacenya, bisa kok di edit di setting. Punya aku 1300 semua tuh, liat az sendiri hehehe kritik dan saran membangun juga diharapkan ea jeunk.

Ini link blog aku,

http://mignonesia.blogspot.com/
http://mignonesiaboutique.blogspot.com/
http://mig-biscuit.blogspot.com/

Salam kenal Salsa dan semua yang ada di sini, yu marii:)

iwan mengatakan...

keren gan, udah di follow nih blog nya. follow back ya ke http://jerelah.blogspot.com

salsabila tantri ayu mengatakan...

setuju banget akunyaaaaaaaaaaaaaa.
aku bingung nih mau buka yang man. visit ke-3nya aja ya aku:D
makasih sarannya:)

salsabila tantri ayu mengatakan...

fllwbcksoon:)

Poskan Komentar

 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review