Selasa, 27 Mei 2014

Terjemahan Lirik Lagu Birdy - People Help The People

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 02.53
Reactions: 
0 comments Links to this post
God knows what is hiding in that weak and drunken heart
Tuhan mengetahui apa yang disembunyikan dalam kelemahan dan kemabukan hati

I guess you kissed the girls and made them cry
Ku rasa kau telah mencium banyak gadis dan membuatnya menangis

those Hardfaced Queens of misadventure
Para ratu yang tegar dalam sebuah kecelakaan

God knows what is hiding in those weak and sunken eyes
Tuhan tahu apa yang tersembunyi dari kelemahan itu dan mata cekung

a Fiery throng of muted angels
Yang membara dari malaikat yang terdiam

Giving love and getting nothing back
Mencintai dan tak dicintai

People help the people
Manusia membantu sesamanya

And if your homesick, give me your hand and i'll hold it
Dan jika kau rindu rumah, ulurkan tanganmu ku kan mengegenggamnya

REFF

People help the people
Manusia membantu sesamanya

And nothing will drag you down
Dan tak ada yang menjatuhkanmu

Oh and if I had a brain, Oh and if I had a brain
Dan jika aku punya akal,

i'd be cold as a stone and rich as the fool
Aku akan menjadi sedingin batu dan kaya seperti orang bodoh

That turned, all those good hearts away
Itu berubah, semua yang berbaik hati pergi

God knows what is hiding, in that world of little consequence
Tuhan tau apa yang tersembunyi di dalam dunia kecilnya

Behind the tears, inside the lies
Dibalik air mata, di dalam tipu daya

A thousand slowly dying sunsets
Ribuan mentari terbenam perlahan

God knows what is hiding in those weak and drunken hearts
Tuhan mengetahui apa yang disembunyikan dalam kelemahan dan kemabukan hati

I guess the loneliness came knocking
Ku rasa kesepian datang menghampiri

No on needs to be alone, oh save me
Tak perlu menjadi sendiri, oh selamatkan ku


BACK TO REFF

Sabtu, 03 Mei 2014

Ada?

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 23.15
Reactions: 
1 comments Links to this post
Hi! Sudah sangat lama ya saya tidak ada new post dari blog ini. Ya, karena kemarin saya sibuk bersekolah. Tau sendiri seberapa banyak tugas anak ‘SMA’ :) cukup melelahkan, hm, no. Sangat  melelahkan, menurut saya.

Ohya, sebelumnya mengapa saya menggunakan kata pengantar ‘saya’ dalam postingan kali ini? Karena, saya ingin terlihat lebih wise & sopan sehubungan dengan apa yang ingin saya sampaikan kali ini :)

So, the idea of the story is began when beberapa hari lalu tepatnya Kamis, 13 Maret 2014 saya mengunjungi sekolah menengah pertama saya di Tangerang. Sebenarnya, saya datang karna kebetulan saya dipanggil oleh salah satu guru saya untuk ‘sharing’ kepada adik adik kelas yang akan menjalankan ujian nasional.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di bangunan itu seluruh memori menguak. Dari mulai pertama masa MBS atau MOPDB sampai momen momen kelulusan. Berputar secara teratur di otak saya. Kangen. Jujur, saya sangat suka suasana sekolah menengah pertama saya tersebut. Seandainya saya boleh memilih, saya ingin kembali bersekolah di tempat itu lagi. Ada banyak hal yang tidak atau setidaknya ‘belum’ bisa saya temukan di sekolah menengah atas saya. :)

Baru melewati beberapa kelas saya bertemu guru-guru. Terharu rasanya ketika melihat guru-guru kita masih mengingat kita dengan kesan & kenangan yang sangat baik. Itu yang saya rasakan. Nah, akhirnya kita akan sampai pada inti topik pembicaraan saya ini. Saya ingin berbicara mengenai guru-guru saya. Ketulusan mereka. Mereka sangat tulus.

Ada kurang lebih 6 guru yang sangat dekat dengan saya. Saya sangat menghargai mereka, saya berjanji tidak akan melupakan ketulusan mereka. Kata ‘tulus’ inilah yang menjadi topik. Sejauh ini, setelah saya menjalani kurang lebih 9 bulan menjadi anak SMA saya belum menemukan guru yang mengajar saya dengan tulus. Sebagaimana yang saya temukan di SMP.

Saya akan menceritakan characteristic dari beberapa guru yang saya kenal dekat di SMP yang membuat saya sangat sangat menghargai mereka lebih dari guru-guru yang lain.

Guru IPS saya, Pak Step. Saya bersumpah, mungkin dia hanya satu berbanding seribu yang memiliki ketulusan hati. Caranya mengajar itu bukan semata-mata hanya menyampaikan materi, memberikan ujian, menilai dan menyerahkan nilai. Saya rindu dengan guru-guru seperti ini. Guru yang diawal pengajarannya menyapa anak-anak, menanyakan kabar atau keadaan, berbincang-bincang sebelum memulai pelajaran, melakukan motivasi seperti layaknya “anak-ayah”, menjelaskan materi dengan ketulusan hati bukan hanya ‘sadar pekerjaan’. Apakah ada? Ya, mungkin ada. Tapi, saya belum menemukan. Saya berharap bisa menemukan guru seperti itu lagi! :)

Berlanjut ke guru matematika saya, Pak Koja. Saya diajar beliau hanya dari kelas 9. Berbeda dengan Pak Step yang mengajar saya kurang lebih dua tahun. Pak Koja yang saya kenal adalah guru yang sangat sederhana, jenius, humoris, selalu tahu apa yang kita butuhkan. Mungkin dia guru paling sederhana yang pernah saya temui, saya sangat berterimakasih saya bisa mendapatkan kesempatan diajar dengan beliau. Kalimat ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ mungkin bila saya boleh memilih dialah yang paling layak mendapatkan gelar tersebut. Guru sejati, dia benar-benar yang mengajar seperti memberikan ‘seluruh ilmu’ yang dia punya untuk kami, para muridnya. Tanpa ia sisakan sedikit pun. Dia sangat mengerti saya. Mungkin mengerti juga kemampuan siswa-siswa yang lainnya secara detail. Humoris, juga merupakan kata yang tepat untuk menggambarkan kepribadiannya. Mungkin banyak guru ‘lucu’ seperti ini. Setuju tidak kalau kita butuh lebih banyak guru seperti beliau? :)

Hm, oke selanjutnya Bu Ani. Dia guru IPA saya di kelas 9. Pengetahuan umumnya cukup luas, dia sering menambahkan ‘pengetahuan umum’ di dalam materi pengajarannya. Cara mengajarnya mungkin sama seperti guru pada umumnya. Namun yang saya suka dari Bu Ani adalah ia sangat sangat memikirkan masa depan muridnya. Saya masih ingat suara lantang & menggebu-gebunya saat mengajar. Semangat. Itu yang saya temukan. Apakah masih ada guru yang memiliki semangat tinggi untuk mengajar seperti beliau? Mungkin ada. Tapi, saya belum menemukannya. :)

Dua guru ini mungkin terakhir yang akan saya ceritakan. Yang pertama adalah Pak Bambang, guru IPS kelas 8 sekaligus PA saya sebutannya atau Pembibing Akademis atau yang biasa disebut Wali Kelas. Saya kagum akan ketegasannya, rasanya seantero sekolah tahu akan hal itu. Namun, dibalik ketegasannya ia juga merupakan guru yang sangat perhatian terhadap muridnya. Terakhir Pak Saronih, yang saya kagumi dari nya adalah pembawaannya dalam mengajar. Baginya, mungkin mengajar adalah hal yang menyenangkan. Mengajar dengan santai tanpa merasa ‘tertekan, dituntut atau terpaksa’ mengajar sudah seperti kewajiban. Setidaknya itu yang bisa saya ambil dari caranya mengajar.

Saya sangat rindu dengan orang-orang tadi. Mungkin, mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kejeniusan, kepintaran yang superioir. Justru yang saya lihat, ketulusan. Bukan kesombongan akan ilmu yang telah mereka miliki. Mereka menanggap mengajar adalah suatu hal yang suci. Mengajar bukanlah profesi yang hanya memberi materi-menuntut para siswa mengerti - marah bila siswa tidakmengerti - marah ketika siswa mendapat nilai buruk tanpa tahu penyebabnya.

Apakah masih ada guru yang mengajar benar-benar ‘tulus’ seperti layaknya orang tua mengajarkan anaknya sampai benar-benar bisa? Apakah masih ada guru-guru yang menyapa ‘hai anak-anak apa kabar’ seperti itu? Apakah masih ada guru yang mendatangi muridnya dan bertanya ‘kenapa belum mengerti, nak’? Apakah masih ada guru yang mengajar dengan mata penuh semangat bukan dengan mata lelah mengantuknya akibat stres menilai semua tugas-tugas yang sangat banyak yang ia berikan sendiri? Apakah masih ada guru yang mengajar tanpa mengharap imbalan? Mungkin ada. Jujur, saya sangat sangat berharap masih banyak guru – guru seperti itu.

Karena seseungguhnya itu yang ‘kami’ butuhkan. Saya bukan apa-apa saya hanya siswa kelas 10 yang merasa rindu terhadap guru-gurunya di sekolah sebelumnya. Maaf bila ada yang salah :)
Nyaw, bye-bye! xx
 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review