Selasa, 31 Januari 2012

My Hearts

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 07.13
Reactions: 
2 comments Links to this post

Enough for now;)


Hmm, this time I'll tell you about my teenage life. So, I like a boy I disguised his name to 'R', but he likes another girl, not me. But what I wonder, the manapproached me, I'm afraid I'm more like him. But, not vice versa. It is like giving false hope. I feel very hurt. Earlier, when at school, many of my friends who say that they both like, right in front of me. They talk so,without knowing if it turns out, I also like the people they are talking about.
But one day, he apologized to me, he said sorry and we're just friends, okay? I answer, I already thought you were my friend long ago. I want to forget you, and let you both, I'll move on ~

I'll forget you

Sabtu, 28 Januari 2012

Aku dan Hidupku Part 3

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 05.35
Reactions: 
6 comments Links to this post

Sebelumnya baca yang belum baca part 1 dan dua-nya dibaca dulu ya biar nyambung, ini linknya http://teenactive-salsabila.blogspot.com/2011/04/kesepian-cerpen.html dan ini http://teenactive-salsabila.blogspot.com/2011/12/aku-dan-hidupku-part-2-cerpen.html
          Angin, sampaikan rasa sayangku dan rasa rinduku padanya. Beritahu dia aku selalu sayang dengannya.
Sekarang aku tinggal di Bali bersama mama dan papa. Papa yang membujuk mama agar tinggal bersamaku, dengan alasan untuk menghiburku selepas kepergian kakak tercintaku. Tapi, mama hanya 1 bulan tinggal bersamaku, sungguh mengenaskan.
Semenjak kepergian kakakku aku jadi sangat pendiam dan selalu termenung, aku merasa mama bukan mamaku, aku tidak tahu mengapa mama perhatiannya tidak seperti mama-mama lainnya.
“Rara tungguuuuuuuuuuu!” sergah Petra.
“Gimana Kak Vitri udah membaik?”
“Kak Vitriiiii.. eh Kak Vitri meninggal,” hari ini aku kembali bersekolah.
“Ya Allah, inalillahi wainna ilaihi rajiuun, turut berduka cita ya, kenapa kamu gak kabarin aku, Ra? Siapa tahu aku bisa menyusul ke Jakarta,”
“Aku yakin kamu gak bisa,” sergahnya pelan.
“Oh, iya, Ra kemarin kakak sepupu aku ngeliat kamu di Kuta ya? Katanya kamu bilang, kamu gak tahu rumah aku? Kemarin pas aku ketemu kamu itu, aku habis beli spagethi buat dia, Ra,” jelas Petra
“Ya ampun, maaf ya, Tra. Aku gak tahu kalau itu kakak sepupu kamu,”
“Tapi, kenapa kamu bilang gak tahu, Ra?”
“Waktu kakak sepupu kamu itu, hari itu juga Kak Savitri kecelakaan dan aku harus buru-buru, Tra. Maaf ya,”
It’s okay, Ra.”
“Eh, iya. Aku pulang duluan ya?”
“Aku antar, plis!” Petra memohon.
“Hmm, no problem,” sahutku.
Sampai di halaman rumah,
“Thanks, Tra,” gumamku.
“Ya, kalau misalnya kamu kesepian aku bisa nemenin kamu ya, Ra,”
Thanks for your takecare, aku masuk ya?”
“Oh ya, Bye,” Petra tersenyum simpul.
“Bye,” ketika baru memasuki rumah aku mendengar keributan, samar-samar terdengar ada kata ‘sudah saatnya’ dan ‘anggap saja dia benar anak kandung’ di kalimat kedua yang aku dengar barusan. Air mata ku meleleh aku menghampiri kedua orangtuaku.
“Ma, Pa,”
“Sayang, kamu udah pulang? Kok lebih awal?” Papa berbasa-basi.
“Pa, Ma, apa benar aku bukan anak kandung kalian?” air mataku menderas, aku rasa hidupku sangat penuh dengan airmata, dan masalah yang datang bertubi-tubi.
“Bu bu bukan sayang, kami tidak sedang membicarakan kamu,” kilah Papa.
“Mama sama Papa sekarang jawab jujur!” nada suaraku meninggi, ku lihat mama sepertinya emosi.
“Iya! Kamu bukan anak kandung Mama,” kalimatnya penuh dengan penekanan dan suara tinggi. Duniaku hancur, berkeping. Dari mulai kenyataan di tinggal kakak sampai mereka berdua ternyata bukan orangtuaku. Kalian bayangkan, bila seandainya suatu saat, jika kalian sudah besar mama dan papa kalian bilang seperti itu, apa yang kalian rasakan? Aku belum pernah merasakan helaian dari orangtua kandungku, kecupan manis dari orangtua kandungku, dekapan hangat orangtuaku. Aku sangat lelah dengan hidupku.
          Tak lama tamparan cukup keras mendarat di pipi mama, entah karena apa papa menampar mama.
          “Kalian jahat!” teriakku. Aku berlari menuju ruang audio. Seperti biasa, aku menumpahkan segala amarah, kesedihan-ku di ruang itu, no day no sing. Aku menyanyikan sebuah lagu dan piano.
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku juga
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku 
lah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu 
aku kan jadi juaranya
(Malaikat juga tahu ~ Dewi Lestari)


Mama, kapankah kau hadir dalam hidupku, pertanyaan yang takkan pernah terjawab sampai kapanpun. Kusadari ternyata broken home lebih baik daripada tidak punya orangtua.
Di sudut kamar ini
Aku merenung dan terus merenung
Dengan tatapan lelah, dan mata yang sayu
Aku ini anak siapa?

Pandanganku beralih ke cermin
Kupaksa tubuhku bangkit dan menghampiri
Mataku memandang refleksi tubuh yang memantul
Aku ini anak siapa?

Ingin kubenturkan kepala ini
Biar lupa segala masalah
Aku ini anak siapa?
Sungguh, aku lelah
Aku ini anak siapa?
Sangat menganggu jiwaku
Oh, Tuhan Yang Kuasa
Berikanlah aku jalan,
Jangan biarkan aku menderita
Kalau ada orang bertanya
Siapa ayahmu? Siapa ibumu?
Ku hanya bisa menggeleng
Tak tahu harus menjawab siapa
Jangan sampai ini berlanjut
Aku tak kunjung tahu jawabnya
Hingga selalu sendirian dalam hidup
Dan menjadi jadi anak yang kesepian
Yang mana ayah?
Yang mana ibu?
Mengapa aku ditinggal?
Mengapa aku tidak tahu?
Jeritan histeris tak mampu membantu
Orangtuaku di mana, aku di mana
Oh, aku ini anak siapa?
Misteri tetap jadi misteri.
Aku yang tersisih dari hangatnya kasih sayang keluarga. Sakit aku rasakan, pedih aku nyatakan. Sejuta lagu sendu mengiringi langkah perjalanan hidupku. Indah dalam sanubari terkikis harapan yang semakin semu. Hamparan langit membentang di angkasa. Akupun sendiri dalam heningku. Ketenanganmu terusik oleh semunya harapku. Ayah, ibumu seakan semuanya hanya sebatas palsu. Mereka yang tak mengerti apa inginku. Memanjakanku dengan harta dunianya. Kikis sudah harapan, batinku terkekang. Mencoba meraih, peluk tak dirasa rintihpun mendera. Mencari makna, dingin aku dapatkan. Hampa dalam harap, asa tanpa makna. (karya Agni~dengan beberapa editan)
Akupun terlelap dalam tangisan. Keesokan paginya aku sekolah seperti biasa, aku menceritakan semuanya pada Zira, akupun menangis dalam dekapnya, aku butuh ‘Shoulder to Cry on’ dia adalah orang yang tepat.             
“Kamu gak mau tau siapa orang tua kandung kamu? kamu udah nanya?”
“Belum, aku takut,”
“Aku mau nemenin kamu,” sahutnya.
Dan hari itupun aku memutuskan untuk bertanya langsung kepada Mama aku takut mama masih emosi, aku takut!
“Mama,” Zira mengikutiku dari belakang, tapi mama tidak tahu kehadiran Zira.
“Rara, maafkan mama. Mama tahu mama salah,” pinta mama.
“Rara udah memaafkan mama, Ma, Rara boleh nanya?”
“Boleh sayang,”
“Siapa orangtua Rara, Ma? Tolong ceritain semuanya ke Rara,”
“Orangtua kamu adalah sahabat terbaik mama sayang, namanya Laira sama sepertimu dan Bastian, saat melahirkanmu, mama dan Laira serta Bastian sangat akrab, kedua orangtuamu adalah yatim piatu, pada saat itu, saat kamu berumur 5 bulan di kandungan, Bastian kecelakaan. Kondisinya sangat buruk, dan Laira depresi berat, sehingga dia mempunyai penyakit yang berbahaya, resikonya adalah dia meninggal atau kamu yang meninggal. Tapi dia, memilih kamu untuk merasakan indahnya dunia, dan merelakan dirinya pergi bersama Bastian ketika Laira melahirkan, mama dan papa menjenguknya, dan Laira menitipkan kamu untuk mama. Dan kalimat itu yang terlontar untuk terakhir kalinya, Savitri juga tahu tentag ini,”
“Aku harus berterimakasih denganmu, mama juga papa, telah ikhlas merawat Rara, Rara beruntung, Rara gak dibuang di jalanan,”
“Mama sudah berjanji pada Laira, untuk merawatmu, tapi mama melanggarnya, mama justru bercerai dengan papa, dan meninggalkan rumah, mama bersalah, Ra. Maafkan mama,”
“Mamaaaa,” aku memeluknya. Mama juga sebaliknya, “Makasih, mama sudah mau cerita, selama ini Rara benci mama, seandainya mama dan papa gak merawat Rara, pasti Rara sudah hidup sebatang kara,”
“Iya, sayang,”
“Aku bersyukur, Ma, antarkan aku ke makam, Mama dan Papaku, Ma,”
“Nanti sore kita akan kesana,” perkataan Mama diiringi tetesan air mata. Akupun tersenyum padanya, aku cukup merasa lega, hubunganku dengan Mama cukup membaik, tapi untuk Mama dan Papa kandungku, maafkan aku, aku tidak pernah mendo’akan kalian di alam sana. Aku tertidur, tak terasa langit sedikit lebih sejuk, aku terbangun melirik jam di handphone-ku pukul 03.00 aku segera bangun, mandi dan berhadapan dnegan yang kuasa, ku limpahkan segala perasaanku. Aku keluar mama, telah ada mama dan papa yang telah siap mengantarku. Sampai di pemakaman, tertera nama yang persis dengan namaku, Laira Salma dan Papa-ku Rio Bastian. Aku berlutut, menggenggam sebuah bingkisan bunga, untuk mereka.
“Mama, Papa, maaf selama ini Rara gak kenal kalian, dan gak pernah berziarah, Rara ingin Mama dan Papa hidup, berkumpul bersama,”
“Ma, Pa, sekarang Rara gak kesepian ada Mama dan Papa Rara yang kedua, Rara juga punya kakak yang baik hati, Ma, Pa. Namanya Kak Savitri, Mama sama Papa harus bilang makasih sama Kak Vitri dia yang udah ngejagain Rara juga, sekarang mungkin kalian bertiga berkumpul disana, Rara juga bertiga disini,” selesai aku mebaca do’a dan bercerita kepada dua malaikat, Mama dan Papa juga meminta maaf. Lalu aku, Mama dan Papa menuju makam Kak Vitri yang letaknya tidak berjauhan, tapi berbeda lokasi. Setelahnya aku pulang, aku menghampiri Mama.
“Mama, Rara mau ngomong,”
“Ngomong apa?”
“Ma, Rara mau mama sama papa bersatu lagi, Rara mau Mama tinggal selamanya bareng Rara, Rara kangen disaat bisa ketawa bareng sama Mama, curhat bareng sama Mama, belajar bareng Mama, ketika Rara dulu makan disuapin Mama, ketika Mama ngajarin Rara hal-hal tentang kehidupan, ketika Mama nganterin Rara sekolah, ketika Mama yang ngambil rapot Rara, ketika Rara diomelin Mama dan Rara ngunci pintu kamar, saat Rara cerita tentang temen-temen Rara, ketika Mama yang nyiapin sarapan Rara, saat Mama yang memakaikan Rara sepatu dan seragam saat dulu kecil, ketika Mama menyuruh Rara buat belajar, saat Rara ngadu ke mama kalau ada temen Rara yang jail. Saat mama yang masakin makanan Rara, kita nonton TV bareng, Rara kangen, Ma, kangen ketika Mama sering marahin Rara dulu, segalanya, Ma. Saat Rara pulang sekolah dan ada Mama di rumah, yang nanyain keadaan Rara, yang meriksain ulangan Rara, Saat Rara nangis dalam pelukan Mama. Rara udah gak dapet itu semua dari Mama, dan Rara mau Mama bersatu lagi sama Papa, supaya Rara bisa dapetin itu lagi, Ma.” mama memelukku lalu berderaian air mata.
That all isn’t as easy as you imagine,” kilah Mama.
Think about it all anymore, Mom! Please, for me.” tambahku.
I'll think about it anymore.” Kami tersenyum.
Sekarang sudah hampir 1 minggu dari hari bersatunya Mama dan Papa, aku sangat bahagia, sangat, sangat, sangat bahagia! Thanks’ God. Sekarang aku, Mama dan Papa sedang berlibur ke Singapore, kita mengunjungi tempat-tempat menarik, seperti Marina Bay, Esplanade, Patung Merlion, Fountain of Wealth. Aku sengaja membawa kamera milik Kak Vitri dan mendokumentasikan itu semua, sekarang aku merasa sangat beruntung. Tapi ketika aku, Mama, dan Papa sedang berada di Universal Studio, sudah hampir 5 jam kami berkeliling singapura. Tiba-tiba mama pingsan, mama segera dilarikan ke rumah sakit yang dekat dengan pusat kota Singapore, bernama ‘Singapore General Hospital’. Setelah diperiksa aku baru tau kalau Mama ternyata punya penyakit ginjal yang sangat parah, dan butuh pendonoran ginjal untuknya. Papa, segera mencari info tempat-tempat pendonoran ginjal. Stoknya habis semua, mungkin hanya perdagangan gelap yang menjualnya.
Tapi, Papa tak mau, aku masuk ke dalam ruangan dokter yang merawat Mama,”Doc, please take my kidney to my mother. I’m willing, Doc. Plis! I beg,” tuturku memohon
Are you sure? Donor kidneys can cause death.”
But, how if nothing is donates a kidney for my mother?
Your mother will die, because kidney disease is very severe..” mendengar kata mati dadaku sesak sekali.
If so, quickly grab my kidney. Fast!
Will not.” Aku mengambil sebuah peralatan tajam di meja peralatan doketr tersebut.
Now it's up. You want to or not. I'll still die. choose where? I died in vain or I die because help my mother?” kataku sembari mengarahkan benda tajam itu ke bagian tubuhku.
Please don’t! yes I will obey your word.
Thanks,
Sekarang aku yang terbaring lemah di Rumah Sakit, aku habis mendonorkan ginjal kepada Mama keduaku. Sungguh aku tak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk keempat kalinya. Bersyukurlah aku sekarang aku bisa sadar, setelah Papa dan Mama tahu, Mama dan Papa justru memarahi dokter yang mengambil ginjalku, namun aku menjelaskan semuanya.
Sekarang aku, Mama dan Papa sudah berada di Bandara Internasional Changi Singapura. Kami menuju Bandara Soekarno-Hatta terlebih dahulu untuk membereskan pekerjaan Mama di Jakarta, lalu kami terbang ke Ngurah Rai kembali.
Kondisiku semakin lama semakin memburuk, badanku semakin lemas. Dan ternyata tanggal kematianku adalah 28-01-2012. Aku melihat dari alam sana, kedua orangtuaku menangisi kepergainku seperti mereka menangisi kepergian Kak Savitri. Mama menyesali semua perbuatannya pada masa lampau terhadapku, begitupun Papa, tapi sekarang aku bahagia, aku berkumpul bersama Papa, Mama kandungku di akhirat dan Kak Vitri disini. Ma, Pa, aku menuggu Mama dan Papa disini, makasih semuanya, aku bahagia sekarang.
Tamat~
Maaf yah kalo ada salah kata, gue males ngoreksi, ngebet pengen dipostingJ mwhahah, commentnya dongsJ


Selasa, 24 Januari 2012

NASKAH DRAMA DETIK-DETIK PROKLAMASI KEMERDEKAAN INDONESIA

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 04.41
Reactions: 
1 comments Links to this post

SCENE I        : Berita Kekalahan Jepang

Pada tanggal 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan penghentian permusuhan terhadap sekutu, setelah sebelumnya yaitu pada tanggal 14 Agustus 1945 sekutu menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Berita tentang genjatan senjata yang dilakukan oleh Jepang ini disiarkan di radio jepang dari Tokyo. Ternyata siaran tersebut tertangkap di Indonesia dan Sutan Syahrir mendengarnya.

Sutan S.      Apakah kalian sudah mendengar berita kekalahan Jepang?
Sukarni        Belum, Bung . Benarkah itu? Apa yang terjadi dengan Jepang?
Sutan S.      Dari yang kudengar, Sekutu telah menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Oleh sebab itulah, Jepang melakukan genjatan senjata.
Chairul S.     Kalau begitu, berarti kita harus segera memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni        Benar itu, Jepang sudah tak ada wewenang lagi di negeri kita. Kita harus memanfaatkan momen ini!

SCENE II      : Peristiwa Rengasdengklok

Babak 1          : Perdebatan golongan tuan dengan golongan muda

Setelah mendengar berita kekalahan Jepang, Chairul Shaleh segera merencanakan pertemuan dengan anggota golongan muda lainnya untuk membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan. Pertemuan ini dilangsungkan di Jalan Pegangsaan Tinur No. 17 Jakarta pukul 20.00 WIB.

Chairul S.     Teman-teman sekalian, sudahkah kalian mendengar berita tentang kekalahan Jepang ?
Wikana         Belum, kawan . Darimana engkau tahu tentang itu ?
Chairul S.     Barusan saya dan Sukarni berkumpul dengan Syahrir, ia mendengar siaran radio Jepang yang mengumumkan berita tentang genjatan senjata itu.
Darwis          Berarti negeri kita sekarang dalam kondisi vacuum of power ?
Chairul S.     Benar. Demikian, saya mengumpulkan kalian semua disini untuk membicarakan masalah itu. Kita harus memanfaatkan situasi ini untuk memproklamirkan kemerdekaan.

Sukarni        Tepat sekali . Kalau begitu, kita harus membagi tugas. Wikana dan Chairul, kalian harus pergi ke kediaman Soekarno untuk menyampaikan kabar ini. Saya dan Bung Darwis akan memerintahkan anggota pemuda lainnya untuk merebut kekuasaan dari Jepang.

Kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur No.56 Jakarta pukul 22.00 WIB. Terjadi Perdebatan serius antara golongan pemuda dengan Soekarno

Wikana         Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang , Bung !

Soekarno     Ini batang leherku, seretlah aku ke pojok itu sekarang dan potong leherku malam ini juga! Kamu tidak perlu menunggu hingga esok hari!

Chairul S.     Tapi ini saat yang tepat, Bung. Jepang sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di negeri ini. Mengapa harus menunggu? Rakyat sudah banyak menderita akibat penjajahan ini..

M. Hatta       Jepang adalah masa yang silam. Belum lagi kita harus menghadapi Belanda yang hendak kembali berkuasa di negeri ini. Jika Saudara tidak setuju dengan apa yang saya katakan, dan mengira diri Saudara telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?
Chairul S.     Apakah kita harus menunggu janji Jepang untuk memerdekakan bangsa ini? Kita bisa, Bung. Kita harus bangkit dan memproklamirkan kemerdekaan sendiri. Mengapa harus menunggu janji manis itu? Jepang sendiri bahkan telah kalah dalam “Perang Suci” nya!
Soekarno     Kekuatan segelintir ini takkan mampu mengalahkan armada perang milik Jepang! Coba kau perlihatkan padaku, mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? Apa tindakanmu untuk menyelamatkan wanita dan anak-anak jika ternyata terjadi pertumpahan darah? Bagaimana cara kita nanti untuk mempertahankan kemerdekaan? Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri.
Wikana         Tapi semakin cepat kita memproklamasikan kemerdekaan akan semakin cepat pula kita mengakhiri penderitaan rakyat yang sudah ditanggung selama ini.. Inilah yang sudah ditunggu-tunggu bangsa kita, Bung.

M. Hatta       Baiklah. Tapi berikan kami waktu untuk berunding sebentar.

Kemudian para anggota golongan tua yang berada di kediaman Soekarno langsung membicarakan permasalahan tersebut.

M. Hatta       Bagaimana ini? Para pemuda menuntut untuk segera memproklama-sikan kemerdekaan.
Soekarno     Tapi kita tidak boleh gegabah, Bung. Kita butuh waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan matang agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Mr.Soebarjo Saya setuju. Menurut saya, yang terpenting sekarang adalah menghadapi Sekutu yang hendak berniat kembali berkuasa di negeri ini. Selain itu, masalah kemerdekaan sebaiknya dibicarakan lagi dalam sidang PPKI 18 Agustus mendatang.
Iwa K.           Lalu bagaimana dengan pendapat golongan muda? Apa kita abaikan saja?
Djojo P.        Ya, lagipula mereka masih muda, pemikiran mereka terlalu pendek. Kita harus melihat ke depan, mempersiapkannya dengan matang. Kalau tidak bagaimana nanti jika semuanya berantakan?
Iwa K.           Baiklah, Bung. Berarti kita semua sudah sepakat.

Setelah selesai berunding, para golongan tua segera menemui para anggota golongan muda yang menunggu di luar ruangan.

Moh. Hatta   Setelah kami berunding tadi, kami memutuskan untuk tidak tergesa-gesa mengenai hal proklamasi kemerdekaan. Hal ini masih akan dibicarakan lagi dalam sidang PPKI.

BABAK 2       : Penculikkan Soekarno dan Moh. Hatta oleh para pemuda.

              Dengan berat hati mendengar keputusan tersebut, para pemuda pun meninggalkan kediaman Soekarno. Tetapi mereka tidak putus asa. Mereka pun menyusun strategi bagaimana membujuk Soekarno dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengasingkan kedua tokoh itu ke Rengasdengklok agar terhindar dari desakan pemuda dan pengaruh Jepang di Jakarta.

Tanggal 16 Agustus 1945 Pukul 04.00 WIB, kediaman Soekarno

Chairul S.     Assalamualaikum ..
M. Hatta       Waalaikumsalam. Ada apa Saudara datang sepagi ini ?
Darwis          Kami bermaksud membawa Anda dan Soekarno untuk ikut kami menuju tempat pengasingan.
Soekarno     Tempat pengasingan ? Apa yang Saudara maksudkan ?
Chairul S.     Ya, kami akan membawa kalian untuk diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara rakyat dan Jepang.
Moh. Hatta   Baiklah, kami akan ikut.
Darwis          Sebaiknya Ibu Fatmawati dan anak Anda turut serta, Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.
Soekarno     Baiklah, saya akan mengajak mereka.

Hilangnya Soekarno dan Moh. Hatta secara misterius pagi itu,menimbulkan kepanikan di kalangan para pemimpin di Jakarta. Peristiwa ini baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo pukul 08.00 pagi.

Mr.Soebarjo Apakah Saudara tahu keberadaan Soekarno dan Bung Hatta ?
Wikana         Maaf, saya tidak tahu, Bung.
Mr.Soebarjo Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang, dan aku akan menjamin keselamatan mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku akan menjamin kemerdekaan untuk kalian esok harinya.
Sudiro         Akankah Anda bersumpah untuk itu ?
Mr.Soebarjo Kau bisa percaya padaku, Nak
Wikana         Baiklah, kami akan menunjukkan tempatnya, di Rengasdengklok.
Mr.Soebarjo (memanggil salah seorang pemuda) Hei, Nak ! Tolong antarkan kami                  ke Rengasdengklok.
Yusuf Kunto Maaf saya, Pak? Baik, kalau begitu naiklah(Mr. Soebardjo naik ke mo-bil beserta Wikana dan Sudiro kemudian berangkat menuju Reng-asdengklok)

BABAK 3       : Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok

Soekarno     Nah, jelaskan sekarang mengapa Saudara sekalian membawa kami kesini.
Chairul S.     Maafkan kelancangan kami, Bung . Ini demi keselamatan Anda.
Darwis          Kami ingin membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh. Hatta   Bukankah tempo hari sudah kami katakan kepada kalian, masalah kemerdekaan masih akan dibicarakan dalam sidang PPKI ?
Chairul S.     Memang benar adanya. Tetapi kami semua berpendapat, Mengapa menunggu untuk di merdekakan oleh Jepang ? Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak dengan kekuatan sendiri ? PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan dari Jepang.

Soekarno     Pendapat itu benar. Namun, kita masih terlalu dini untuk memproklamasikan kemerdekaan. Selain itu kita belum siap dan masih membutuhkan bantuan dari Jepang untuk merdeka.
Darwis          Bagaimana bila perkataan Jepang tentang kemerdekaan bangsa kita hanya janji manis belaka? Apa yang akan Anda lakukan?
Sukarni        Apakah akan selamanya menunggu janji itu, Bung? Kita harus memproklamasikan kemerdekaan sekarang juga, demi rakyat yang sudah bertahun-tahun terbelenggu oleh penjajahan di Tanah Air mereka sendiri! Mereka berhak bebas, dan sekaranglah saatnya!
Syodanco S. Tenang Saudara sekalian. Mari bicarakan semuanya dengan kepala dingin, tidak perlu ada ketegangan, ok?

(Syodanco Singgih membawa Soekarno dan Moh. Hatta menjauh dari perdebatan itu, kemudian mereka berunding)

Syodanco S. Saya mengerti perhitungan Anda berdua mengenai masalah proklamasi ini, kita memang belum mempertimbangkan semuanya dengan matang. Tapi saya percaya kita dapat bangkit dan memanfaatkan situasi ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Bung. Apa yang mereka katakan benar adanya dan saya mendukung mereka.
Moh. Hatta   Tetapi, apakah kita bisa? Akankah ini semua mungkin dilakukan?
Syodanco S. Tentu mungkin, Bung. Asal kita berusaha tentu akan kita temukan jalan keluarnya. Lagipula, para pemuda di Jakarta sedang menyusun strategi pertahanan untuk mencegah serangan dari Jepang ataupun sekutu yang tidak menerima proklamasi bangsa kita.
Soekarno     Baiklah, saya setuju. Kita akan memproklamasikan kemerdekaan tanpa ada campur tangan Jepang.

Pada pukul 17.30 WIB , rombongan dari Jakarta tiba di Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Moh. Hatta.

Mr.Soebarjo Syukurlah kalian semua baik-baik saja. Jadi bagaimana keputusan-nya?
Moh. Hatta   Kami setuju kemerdekaan akan dilaksanakan tanpa campur tangan Jepang.
Mr.Soebarjo Lalu, Kapan kita akan melaksanakannya? Menurut saya, bagaimana jika besok? Pasukan pemuda di Jakarta sudah bersiap.
Soekarno     Jika mungkin, ya kita akan melaksanakannya esok pagi.

Selesailah perundingan di Rengasdengklok. Semua anggota golongan tua maupun muda kembali ke Jakarta untuk membahas lanjut rencana proklamasi kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.

SCENE III    : Rumah Laksamana Maeda (Perumusan Teks Proklamasi)

Tanggal 16 Agustus 1945 pukul 23.00 WIB, rombongan tiba di Jakarta.

Mr.Soebarjo Bagaimana kita membicarakan naskah proklamasi untuk mendeklarasikan kemerdekaan kita ?
Chairul S.     Kita butuh tempat untuk membahasnya, Bung. Tapi hari sudah malam dan pihak Jepang tak mungkin mengizinkan kita melakukan kegiatan sekarang, apalagi jika mereka tahu bahwa kita hendak membicarakan rencana proklamasi.
Mr.Soebarjo Saya punya ide. Kita akan meminjam rumah perwira Jepang, Laksamana Maeda.
(Rombongan kemudian berangkat ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No.1)

Mr.Soebarjo (mengetuk pintu)
L. Maeda      Selamat malam, Ada apa, Bung ?
Mr.Soebarjo Maaf kami mengganggu Anda malam-malam begini. Kami perlu tempat untuk membicarakan rencana kemerdekaan yang akan dilangsungkan esok hari.
L. Maeda      Benarkah itu? Kalau begitu,masuklah. Saya turut gembira mendengar kabar ini. Silakan gunakan ruangan yang kalian butuhkan. Saya akan pergi istirahat dulu.
Chairul S.     Terimakasih, Pak Perwira.

               Perumusan Teks Proklamasi dilakukan di rumah makan Maeda. Tiga eksponen pemuda yaitu Sukarni, Sudiro, dan B.M Diah menyaksikan Soekarno, Moh Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo membahas perumusan naskah proklamasi.

         Acara Perumusan naskah proklamasi berjalan lancar.Tidak ditemukan kesulitan untuk menemukan rumusan yang tepat. Sebagai hasil pembicaraan mereka bertiga, di perolehlah rumusan yang di tulis tangan oleh Soekarno.

         Pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 04.00 WIB, dibacakanlah rumusan naskah proklamasi untuk yang pertama kalinya di depan para hadirin yang berada di rumah Maeda yang langsung disetujui. Namun kemudian timbullah persoalan tentang siapa saja yang akan menandatangani naskah proklamasi.

Chairul S.     Menurut saya, sebaiknya naskah ini jangan ditandatangani oleh anggota PPKI.
B.M Diah      Memang kenapa? Lantas siapa yang akan menandatanganinya?
Chairul S.     PPKI kan lembaga bentukkan Jepang . Kita sudah sepakat tadi untuk melaksanakan proklamasi tanpa campur tangan Jepang.
Mr.Soebarjo Kau benar, Nak. Bagaimana ini, Bung ?
Soekarno     Adakah dari kalian yang punya pendapat untuk menyelesaikan masalah ini?
Sukarni        Bagaimana jika naskah ini ditandatangani oleh hadirin yang datang                    saat ini? Seperti Amerika ketika menandatangani teks deklarasinya.
Moh.Hatta    Jangan, kita tidak boleh meniru. Kita harus berbeda dari bangsa lain.
Wikana         Lalu bagaimana, Bung Karno ?
Soekarno     Karena ini semua berkat jasa-jasa Indonesia berarti “Atas nama bangsa Indonesia”
Sukarni        Saya setuju, dan saya punya usul. Yang menandatangani teks cukup dua orang saja yaitu Anda dan Bung Hatta sebagai wakil dari bangsa Indonesia. Bagaimana?
Soekarno     Usul yang bagus. Bagaimana hadirin ?
Hadirin         Kami setuju !!!

Setelah  semuanya setuju, Soekarno memerintahkan Sayuti Melik untuk mengetik teks proklamasi

Soekarno     Tolong kau ketik teks proklamasi ini. Jagalah teks ini baik-baik.
Sayuti M.     Baik, Bung. (dengan segera mengetik teks tersebut)

Sayuti Melik pun mengetik teks tersebut. Semua persiapan proklamasi rampung pada pukul 04.30 WIB. Lalu, semua hadirin pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan gembira. Kemudian para pemuda mengirimkan kurir-kurir untuk menyampaikan bahwa saat proklamasi telah tiba. Mereka juga mengatur pelaksanaan penyiaran berita proklamasi kemerdekaan. Menyebarkan beberapa pamfleet ke penjuru Jakarta dan sekitarnya. Pengeras suara diusahakan adanya. Semua dilakukan agar rakyat dapat turut menyaksikan momen paling berharga untuk bangsa Indonesia

Pada saat yang sama, Soekarno dan Ibu Fatmawati sampai di kediaman mereka dan berbincang sejenak.


Soekarno     Alhamdulillah akhirnya semua berjalan dengan lancar. Terimakasih ibu telah menemani saya di saat-saat yang cukup menguras pikiran ini.
Fatmawati     Iya, terimakasih Gusti Allah yang telah memberikan jalan pada bangsa kita untuk memproklamasikan kemerdekaan. Oh iya pak, apakah kalian sudah merencanakan bagaimana proklamasi besok akan berlangsung?
Soekarno     Sudah, kita akan melaksanakan upacara bendera, yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya karya Bung Supratman.
Fatmawati     Bukankah kita belum punya bendera? Lantas bagaimana?
Soekarno     Ya ampun, Bapak sampai lupa, Bu. Kalau begitu bagaimana jika Ibu saja yang menjahitkan bendera?
Fatmawati     Tapi Ibu tidak punya kain, Pak. Kain yang ada hanya kain merah dan putih. Apa tidak apa-apa?
Soekarno     Tentu saja. Buatlah bendera yang sederhana. Yang penting kita sudah berusaha untuk menyediakannya.
Fatmawati     Baiklah, Pak. Dan, Ibu punya ide. Kita namakan saja bendera nya “Sang Saka Merah Putih”. Bagaimana?
Soekarno     Ide yang bagus. Ya, bendera pusaka “Sang Saka” dan warna nya merah putih, menjadi “Sang Saka Merah Putih”, Brilian !
Fatmawati     Ya sudah, sebaiknya Bapak bersiap sana. Menyusun pidato yang nanti akan bapak bacakan.

SCENE IV     : Proklamasi Kemerdekaan

Hari Jum’at pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jl. Pegangsaan Timur No.56 , dilangsungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Sesaat sebelum upacara dimulai…

Soekarno     Trimurti, tolong Anda kibarkan bendera Merah Putih ini sebagai tanda awal kejayaan bangsa ini. (sambil menyerahkan bendera)
Trimurti        Siap, Bung. Saya akan menyuruh anak didik saya untuk mengibarkannya. (memanggil Suhud dan Latief) Hei, kalian! Jaga baik-baik bendera ini. Kalian mendapat kehormatan untuk mengibarkan bendera ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.
Latif&Suhud Siap, Komandan ! Kami tak akan mengecewakan Anda.

Tiba saatnya Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…

Tokoh-tokoh pejuang Indonesia telah hadir di lokasi. Di antaranya yaitu Mr. AA. Maramis, HOS Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani dll.

Suasana menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah dari tempatnya semula. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang lantang dan mantap, Soekarno pun membacakan pidato pendahuluan sebelum beliau membacakan teks proklamasi.

Pidato Soekarno :

               Saudara-saudara sekalian ! Saya telah minta Saudara hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang umtuk merdeka. Bahkan telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari penjajahan bangsa lain. Semalam, kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi kemerdekaan Indonesia. Saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya

Jakarta, hari 17 bulan 8 tahun 45
“Atas nama bangsa Indonesia”

Soekarno-Hatta



Kemudian di kibarkanlah bendera Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya. Hadirin turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia tersebut.

Peristiwa Proklamasi ini memang hanya berlangsung sebentar. Namun. Peristiwa itu telah megubah segala sendi kehidupan bangsa Indonesia. Peristiwa Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi momentum puncak perjuangan Bangsa Indonesia. Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berprestasi dalam rangka mengisi kemerdekaan tersebut, bukan malah menodainya. Kita harus bisa membalas budi para pejuang Tanah Air jaman dahulu dengan cara mempertahankan kemerdekaan ini !
NAMA – NAMA PEMERAN         :
Ir. Soekarno           :                                      Laksamana Maeda  :
Moh.Hatta             :                                      Trimurti                  :
Mr.Soebardjo         :                                      Iwa Kusumasumantri:
Chairul Shaleh       :                                      Djojo Pranoto        :
Wikana                   :                                      Yusuf Kunto           :
Darwis                   :                                      Sudiro                   :
Syodanco Singgih  :                                      B.M Diah               :
Ibu Fatmawati         :                                      Sayuti Melik           :          
Sutan Syahrir        :                                      Latief H                 :
Sukarni                  :                                      S. Suhud               :
 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review