Minggu, 26 Februari 2012

Dunia Memang Benar Berputar

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 06.46
Reactions: 
6 comments Links to this post

          Kali ini, gue akan menggunakan kata “saya” sebagai kata pengantar karena pada postingan kali ini akan sedikit lebih serius. Saya ingin menceritakan kejadian yang benar-benar terjadi dalam hidup saya, dan saya serta anda bisa menjadikan ini sebagai pelajaran atau sebagainya.
          Pada awalnya, saya ingin menceriatakan realita yang terjadi kepada keluarga besar saya. Keluarga besar saya di Jakarta, terdiri dari Nenek, Kakek (yang saya panggil sebagai engkong) ke-4 anaknya, ke-4 menantunya, serta ke-6 cucunya, termasuk saya.
          Nenek saya memiliki seorang adik yang mungkin sekarang berusia 40-an, yang saya samarkan namanya menjadi Ibu Ami. Ibu Ami memiliki seorang suami bernama (lagi lagi saya samarkan menjadi) Pak Rio, dan ke-3 orang anak yaitu, Kak Ira (sekitar 17 tahun), Kak Riza (21 tahun) dan Ka Arin (30 tahun) ketiga nama anaknya pun saya samarkan. (umurnya sekarang)
          Kehidupan mereka sangat berkecukupan, sangat kaya, sering gonta-ganti mobil dsb. Tapi, Ibu Ami dan keluarganya lupa dengan Nenek saya. Mereka jarang bersilaturahmi, keluarga besar kami-pun menjadi enggan dan sedikit kecewa.
          Pada waktu itu, juga pernah saat ingin menunjukan mobil barunya, Ibu Ami dan Om Rio ingin menunjukan mobil barunya kepada keluarga besar saya (berdasarkan cerita nenek) mereka mengajak nenek pergi. Tapi? Mereka justru meninggalkan nenek di depan rumah mereka, Sangat membuat keluarga kami kesal, dan sedikit marah. Ini bukan rekayasa, dan memang adanya terjadi.
          Waktu itu, keluarga mereka sangat membanggakan keluarga mereka, dan memamerkannya kepada keluarga saya. Memang saya akui mereka dalam keadaan jaya. Om Rio mempunyai pekerjaan yang sangat pantas untuk dibanggakan. Keluarga besar saya hanya bisa mengelus dada. Kami mencoba bersikap biasa saja. Sampai suatu saat, nenek saya pernah bilang kepada anaknya, Om Ipul. Saya ingat nenek pernah bilang,”Biarin aja keluarga kita kayak gini dulu, makanya kamu jadi orang yang sukses, anak mama satu-satunya yang kuliah kan cuma kamu, nanti kalau kamu sukses, kamu bisa beli mobil,” Om Ipul hanya menjawab,”Iya Amiiiii,” (Ami panggilan Om saya untuk nenek saya). Saya-pun termotivasi untuk membahagiakan nenek, jika beranjak remaja nanti (kala itu saya berumur 10 tahunan).
          Tapi waktu semakin berlalu, Ibu Ami kini sering main ke rumah nenek saya, setelah saya dengar-dengar ternyata, Om Rio pergi meninggalkan Ibu Ami, siapa sangka? Saya berfikir,”Giliran kaya? Lupa sama keluarga kita. Giliran mau cerai baru inget sama nenek,” tapi keluarga kami tetap senang hati menerimanya.
          Semakin hari, keluarga Ibu Ami, semakin tak karuan Om Rio pergi meninggalkannya, mobil-nya dijual, rumah-nya juga dijual, anak bungsu-nya sempat berhenti sekolah, dan mereka tinggal di kontrakan. Ini sangat patut dijadikan pelajaran.
          Keluarga kami mencoba menerima dan melupakan segala kesombongan Ibu Ami dan keluarganya. Hingga kami akrab lagi, tapi tidak dengan situasi yang sama. Lama kelamaan pula, Om saya membeli mobil untuk membuktikan bahwa keluarga kami juga bisa, dalam artian bukan sombong. Sekarang seperti terbalik keluarga Ibu Ami minus Om Rio yang justru sering meminta bantuan kepada keluarga besar kami. Kami tak menyesali semua yang telah terjadi.
          Dan satu berita yang mengejutkan keluarga besar saya akhir-akhir ini, Ibu Ami mengidap penyakit kanker yang sudah parah. Baru sabtu kemarin kami sekeluarga besar menjenguknya ternyata benar. Kini Ibu Ami tinggal di rumah nenek saya. Siapa sih yang mikir kalau endingnya bakal kaya gini? Tapi ini bukan ending, kehidupan masih terus berlanjut, atau mungkin roda kehidupan masih terus berputar lagi.
          Dan yang terpenting, yang dapat kita ambil dari kisah tadi seperti kata kakek saya,”Tuh, liat kita ganyangka kan? Dulu keluarga kita seakan-akan dibawah mereka? Tapi sekarang? Makanya nih buat cucu cucu engkong, mau sekaya apapun kalian, kalian gaboleh sombong, yang namanya saudara ya tetep saudara, saling dibantu, kalo misalnya nanti nenek sama engkong udah gaada, tetep kaya gini, harmonis.” Cukup bijak bukan? Saya bangga memiliki kakek seperti beliauJ. Kisah diatas benar-benar terjadi, tak ada rekayasa sedikitpun, benar-benar terjadi dalam hidup saya.
*****


Saya menulis cerita diatas pada tahun 2012. Dan kini semua itu berkelanjutan membentuk ending dari seluruh perjalanan hidup Ibu Ami, belum lama pada tahun 2013 Ibu Ami menghembuskan nafas terakhirnya. Meninggalkan sisa-sisa penderitaan yang di wariskan kepada anaknya.
Anak pertamanya hidup susah membiayai satu anaknya, anak kedua menjadi pengangguran dan menjalin kasih dengan seseorang yang berbeda agama, anak ketiganya masih bersekolah dan menunggak bayaran beberapa bulan.
Hidup ini gak bisa di duga, gak bisa di tebak. Awal maupun akhirnya, semoga Ibu Ami tenang di alam sana.
“Hidup itu seperti ombak. Gak pernah stabil. Kadang pasang naik-kadang pula pasang surut.” - salsabila

Kamis, 23 Februari 2012

Tanah Liat

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 23.15
Reactions: 
2 comments Links to this post

Kenapa gue kasih judul itu? Karena gue emang pengen cerita tentang tugas tanah liat gue dan teman-teman. Udah lama yekan gue nulis kaya gini? Dari kemaren serius mulu postingan gue.
          Yang pertama, tepat banget hari kamis malem. Atau disebut malem jum’at kemaren gue mimpi. Muti bikin bebek dari tanah liat dan bebek itu patah, gara-gara gue. Dan Muti-pun nangis sampe keluar air got. Gaklaah~ gamungkin itu. Dan kalian tau?
          Tadi, ada tugas ngumpulin tanah liat. Dan Muti-pun bawa tugasnya, asli itu bagus abis. Keren banget, gue pegang dan gue bandingin sama punya gue, gue galau. Gue keinget mimpi gue? Kok gapatah ya karyanya muti? Gue bingung. Selesai penilaian karya Muti dapet 82 tadi, sebanding banget sama karyanya, bagus begitu. Dan punya gue Cuma dapet 78, dan itupun masih basah, abis gue mandiin tadi.
          Gue sama Maura Adul mainin tanah liat itu, ceritanya ituada acara bebek awards. Dan gue termasuk dalam nominasi hidung termancung di dunia, kalian tau kan hidung gue emang pantes banget dapet nominasi kaya gitu. Idung gue kan panjangnya 10 cm, kebayang kan mancungnya kaya apa? Ukuran wedges laah. Dan yeah, bener gue menang dalam kategori itu, terus biasa kaya di tipi-tipi, gue sama adul ngucapin rasa syukur,”Makasih udah dapet bebek awards. Terutama buat Allah SWT yang telah menganugerahkan saya hidung semancung ini, makasih juga untuk mimi-pipi, terimakasih untuk fans-fans saya yang tergabung dalam RIM, republik idung mancung*gubrak*. I love you all.” Dengan gaya-gaya artis penerima awards di tipi-tipi.
          Gak lama dari itu, bebeknya Muti, beneran patah. Beneran. Tapi patahnya bukan sama gue tapi sama Adul, haha kasian banget yakan? Kasian bebeknya. Muti nangis tadi, sampe guling-guling di lantai ga karuan. Adul bingung panik, eh dia tambel pake tanah liat. Tapi gakbisa bisa. Tapi intinya, MIMPI GUE JADI KENYATAAN. Bangga banget gue, ko bisa ya? Gue juga gatau.
          Sekarang yang kedua, si Pira. Pira bikin kura-kura, eh tapi bukan deh katanya si penyu. Nah, si Pira ini bingung ngasih nama apa, kan kalau punya gue, gue kasih nama PENYU TAK BERTELUR, biar kece-kece gimana gituuuuu. Si Pira nanya ke gue, gue si udah ngasih beberapa pilihan diantaranya, Penyu tanpa sayap, Penyu berkalung sorban, Penyu Ababil tapi apaaaa? Pira malah ngasih nama penyunya, PENYU UNYU~ jelas-jelas galucu itu penyu:D *peacepir*.
          Dan sekarang kisah gue, bikin tanah liat itu susaaaaaaaaaah banget. Tadinya gue udah bikin uler kobra, tapi gara-gara uler kobranya jago nge-dance korea, lirik sana-sini, centil, akhirnya lehernya patah. Yang kedua gue bikin bunga, bunga tak bernama. Kisahnya pun sama, mengalami kecelakaan. Gue segera mengamputasi kuncup bunga itu, tapi apalah daya? Bunga-nya tlah tak bernyawa lagi.
          Gue googling kan, eh ada gambar daun gue nyoba bikin daun. Tapi tapi tapi lagi-lagi failed. Daun-nya gue tungguin, tapi gabisa bermetamorfosis oleh sebab itu gue nyatakan dia gagal. Dan yang ketiga, kegiatan googling gue pun berlanjut, gue nemu gambar kura-kura. Dan kalian tahu yang kali ini berhasil? Amin banget gue.
          Gue bawa ke sekolah, eh gue di ketawain sama Muti sama Pira, gue diketawain gara-gara kura-kura gue cuma punya dua kaki? DUA KAKI, gue di ketawain disitu, ya gue kan gak tau, kura-kura punya kaki berapa, gue belom pernah nyoba jadi kura-kura. Kata Pira kura-kura punya 4 kaki dan satu ekor. Yaudah tuh, gue tambahin disitu, gue bikin lagi 2 kakinya dan ekornya. Tapi gabisa-bisa soalnya udah kering. Gue geregetan gue tusuk aja, pake tusuk gigi. Eh bisaaaa, mata gue berbinar penuh cahaya, berlian di mata gue pada bertumpahan.
          Ketika mau dikumpulin, tiba-tiba kakinya yang satu patah dan tusuk gignya keliatan. Gue tanya sama Pak Amir,”Pak gimana, Pak? Boleh kan pake tusuk gigi?”
          “Boleh asal gak ketauan gurunya.”
          “Lah kan, bapak gurunya. Dan bapak ngeliat,”
          “Yaa berarti?”
          “Yelah, Pak.”
          Dan karyanya gue FAILED, untung masih ada kesempatan minggu depan. Di hari Sabtunya gue bikin, bikin penyu dengan 4 kaki, dan alhamdulillah gue langsung sujud syukur, bisaaaa, berhasil, success. Dan dikumpulinnya masih jum’at depan. Yaudah gue keringin. Giliran hari rabunya, gue mau amplas, dan gue mau mengkilatin pake kelereng, eh malah, kaki penyunya patah gara-gara ketiban botol tempat kelereng. Seriusan gue nangis. Gagal mulu.
          Eh, gue bikin lagi, yang namanya Salsa yekan pantang menyerah gitu? Bwhaha. Gue bikin penyu lagi, penyu yang kemaren cuma gue amputasi doang. Gue keringin eh malah retak. Dan gue baru sadar ternyata dia juga belom gue kasih ekor. Tapi gapapa, tetep gue mau amplas, eh, eh, eh lagi lagi dan lagi kesenggol tangan gue, patah. Siapa si orang yang setegar gue? *Gayaaaaaaa* mungkin kalo kalian jadi gue, udah bershower berali-kali, dan mungkin udah lompat di sumur (Gayanya Alip kalo lagi galau). Tapi gue, gue pantang menyerah.
          Gue bikin lagi, gue bikinnya gapake hati, pake tangan. Gue inget kata Bu Elma katanya,”Kita tidak boleh putus asa, biasanya hal yang kita inginkan terjadi, setelah kita hampir putus asa.” Gue tungguin itu tanah ko ga berubah-berubah. Gajadi-jadi gue berharap ada mukzijat atau keajaiban datang gitu, tapi gaada. Yaudah gue bikin lagi. Dan finally punya gue selesai. Eits tapi masih basah. Tapi gue seneng yang penting jadi. Gue nulis sebegini panjang sebenernya cuma mau bilang satu hal.
TERNYATA BIKIN TANAH LIAT LEBIH SUSAH DARIPADA MENJAUH DARI ORANG YANG KITA SUKA. DAN LEBIH SUSAH DARIPADA BIKIN DIRI INI PINDAH KE LAIN HATI.

Sabtu, 18 Februari 2012

Found The Happiness

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 22.02
Reactions: 
3 comments Links to this post

Kamu akan merasakan kehilangan, ketika orang yang menyukaimu sudah tidak lagi menyukaimu. Ketika orang yang memperhatikanmu tidak lagi memperhatikanmu. Kau baru sadar ketika kau kehilangan dia, barulah mencari seseorang yang benar-benar setia padamu, dan disaat itu mungkin aku sudah pergi darimu, dan kamu baru akan menyadarinya.
Suara teriakan menggoda yang berasal dari anak-anak terdengar sedikit keras, hati Dara bergejolak kencang, ketka orang yang selama ini ia kagumi dan ia sukai, sekarang tepat berada di hadapannya, Dara berdecak kagum. Bahkan matanya menatap lurus ke mata Dara.
“Gue boleh ikut kelompok lu latihan drama kan?” ucap Rezky tepat di depan wajah Dara. “Ini anak kenapa tiba-tiba jadi kayak sok deket gini, selama ini kan gue belom pernah ngobrol sama lu, Cuma kenal lu dari jauh. Gue deg-deg-an banget sumpah,” terang Dara dalam hatinya.
“Ya boleh ya?” lanjut Rezky, matanya mendekat.
“Jangan tanya gue, tanya Dinda aja,” Dara tak kuasa untuk menatap balik tatapan Rezky.
“Kita kan temen ya gak?” Rezky mengangkat tangannya seraya mau ber-tos ria.
“Eh? Iya,” Dara tak membalas tos itu dan berjalan sedikit menjauh lalu duduk di kursi. Rival pergi keluar kelas.
*****
Setiap ku melihatmu. Ku terasa di hati. Kau punya segalanya. Yang aku impikan. Dan anganku tak henti. Bersajak tentang bayangmu. Walau kutahu, kau tak pernah anggapku ada. Ku tak bisa menggapaimu. Takkan pernah bisa. Walau sudah letih. Aku tak mungkin lepas lagi. Kau hanya mimpi bagiku. Tak untuk jadi nyata. Dan sgala rasa buatmu. Harus padam dan berakhir. Kan selalu. Ku rasa hadirmu. Antara ada dan tiada.
            “Din, Rezky udah tau belom kalau Dara suka sama dia?” tanya Asya.
          “Kayaknya sih udah,”
          “Ha? Tau dari mana dia kalau gue suka sama dia? Lo bilang ya?” sambar Dara.
          “Yeee, bukan, Ra. Mana gue tau.” raut muka Dinda menjadi sewot.
          “Mungkin gara-gara lo nge-tweet envy sama avanya Dinda yang berdua Rezky waktu itu kali?”  sergah Claudy.
          “Nah, bisa jadi, Ra.” tambah Asya.
          “Ahilah, yah gue kira kan Rezky gak pernah on twitter, Sya.”
          “Enggak, Ra. Dia sering buka twitter tapi mungkin jarang nge-tweet. Waktu gue putus sama Chandra aja dia taunya lewat twitter.” sela Dinda.
          “Berarti intinya Rezky tau kalau Dara suka sama dia?” Asya mengulang pertanyaannya di awal tadi.
          “Iya,” jawab Dinda.
          “Oh pantes, dia emang sifatnya sok deket gitu kalau di depan orang yang suka sama dia, hati-hati lho ya, awas di modusin,” jelas Claudy
          “Taudeh yang pernah di modusin, eh? Haha canda, Dy, canda.”
          “Hayoloh nanti Dara di PHP-in,” Asya cekikikam melihat raut wajah Dara menjadi panik.
          “Yah, terus gimana dong?” tanya Dara kayak orang lupa ingetan.
          “Menurut gue, sifat lo biasa aja kalau sama dia. Jangan salting kayak tadi,”
          “Bener tuh, Ra. JANGAN SALTING,” tutur Dinda penuh penekanan di kata terakhirnya.
          “Yeee, coba kalau kalian ada di posisi gue, anggap aja orang yang kalian idola-in. Yang selama ini belom pernah contact secara langsung sama kalian. Tiba-tiba ngomong tepat di depan muka kalian? Mau ngapain kalian semua?” Dara melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri.
Asya dan Dinda hanya mengangguk-angguk memberi kode nyerah adu argumen sama Dara.
          “Iya iyaaa, gak usah sewot dong,” kilah Claudy.
*****
Tak bisa memilikimu bukan berarti tak bisa mengenalmu. Tapi, jangan membuatku merasa kau ingin lebih dari sebatas kenal, bersikaplah biasa padaku, jangan buat aku semakin mengharapkanmu.
          Sepulang dari Toko Buku, lagu What The Hell-nya Avril Lavigne mewarnai ruangan kamar Dara. Menandakan sebuah sms masuk di cellphone-nya.
From: 12345678910
Ra, gue izin tugas PKn dari blog lu ya?
          “Ini siapa ya? Ko minta izin?” batin Dara dalam hati. Berselang beberapa menit kemudian, masuk sms selanjutnya.
From: 12345678910
Gue Rezky
          “Ah Rezky?” tukas Dara excited. “Contact langsung sama dia aja baru tadi, dan tadi-pun ngobrolnya gak normal. Orang guenya salting kaya orang gila. Jangan bilang dia mau deket sama gue, supaya gue tambah suka sama dia? Tapi basically dia gak suka sama gue. Ah gue gimana nih? Eh, gua bales deh. orang cuma nanya tugas sih!” pikiran Dara terpengaruh oleh ke-3 sahabatnya tadi.
To: Rezky Zein
Iya copast aja
Rezky membalas,
From: Rezky Zein
Sip
Dara tak membalasnya lagi.
*****
Semakin kau mendekat padaku semakin pula aku merasa kau jahat. Aku merasa kau memberi harapan tak bermakna. Tolong jangan membuat ku semakin suka, dengan tingkah lakumu, setelah itu kau meninggalkanku sendiri bersama rasa ini.
          “Eciye yang semalem sms-an.” goda Dinda.
          “Mana sms-an si? Ah, jangan-jangan lo ya, Din yang ngasih nomor gue ke Rezky,” telunjuk mengarah tepat ke wajah Dinda.
          “Kalo iya, emang kenapa?”
          “Asshh, kalo dia nanti sms gue, nanti gue akrab, nanti gue makin suka, siapa yang tanggung jawab?”
          “Ih geer lu, Ra haha. Pikiran lu kejauhan, lu bener-bener terpengaruh sama omongan kita kemaren ya?”
          “Tapi kan, kemaren kalian semua yang bilang gue harus hati-hati biar gak di modusin. Tapi, kalian malah gini,” wajah Dara berubah murung.
          “Ya sorry, Ra, sorry.” gumam Claudy.
          Siang telah berganti malam, di bawah hembusan angin, desiran air hujan, dinginnya malam, dan suasana hati yang dilema.
          “Bales? Enggak? Bales? Enggak?gue tanya sama Rafi aja kali ya? Atau enggak sama Claudy.” Dara merenung sejenak.. dara mengirim sms kepada dua orang tadi.
To: Rafi Maulana
Raf, masa Rezky sms gue deh. Nanya,”Lagi apa?” gue takutnya kalo gue bales malah jadi keseringan sms, nanti gue makin suka sama dia. Padahal belom tentu Rezky-nya suka sama gue. Gece balesnya, mau curhat\(´`)/.
To: Claudy Annisa Pratiwi
Dy, kalau Rezky sms gue, bales apa enggak?
Balasan sma mereka sampai di ponsel Dara secara bersamaan.
From: Rafi Maulana
Lu bales, Ra. Ya Cuma balesnya singkat-singkat aja. Lu jangan nanya balik. Pokoknya lu gak boleh ngasih kesan kalo lu berharap banget sms-an sama dia. Gitu pokoknya. Ngerti kan;3?
From: Claudy Annisa Pratiwi
Bales aja, RaJ. Mungki dia Cuma mau jadi temen lo? Gaada salahnya kan, kalo dia emang mau temenan sama lo?
Belum sempat membalas sms dari keduanya, ponsel Dara kembali melantukan nada dering sms. Dibukanya sms, ternyata dari Rezky. Tanpa menunggu Dara langsung membukanya.
From: Rezky Zein
Bales, Ra. Gue kan Cuma mau smsn sama lo-_-
“Pengen sms-an apa pengen modusin haha,” setan membisikan sesuatu ke telinga Dara. Dara membalas sms ketiganya dengan sergap. Selanjutnya Dara ber-message ria. Namun, Dara membalas sms Rezky sesuai petunjuk dari kedua sahabatnya tadi, Rafi dan Claudy. Hingga malam semakin larut sampai akhirnya Rafi dan Claudy izin untuk tisur dan sms Rezky-pun terabaikan.
*****
Mengenalmu itu indah. Dekat dengan-mu lebih dari indah. Menjadi milikmu adalah yang terindah. Namun semuanya hanya sebatas angan, akan tenggelam bersama senja.
          “Gimana kemaren sms-annya ahaha?” sapa Claudy.
          “Biasa aja, plis ya, Dy. Jangan bahas itu. Nanti gue yang tadinya biasa aja malah seneng lagi disms-in sama Rezky.” Dara meletakkan tasnya di atas kursinya dan duduk.
          “Kemaren sms-an?” tanya Dinda.
          “Yoo,” balas dara singkat, padat, jelas dan bermakna.
          “Ciheeee ah. Ada yang lagi pedekate nih. Peje yah nanti.” tambah Dinda.
          “Apaan sih?” Dara memasang tampang sinisnya.
          “Ih, sensi banget si nih anak,” sela Asya.
          “Eh, iya sorry sorry bercanda ya haha, udah kalian juga si nih,”
          “Daraaaaaaaaaa, Daraaaaaaaa, diajakin foto bareng sama Rezky,” jerit Elsa dari luar kelas. What’s wrong with my world? Why everything happened so fast?
          “Eh, itu serius, El?” Dinda bersemangat.
          “Serius, Din. Ayo dong, ra! Ya ya ya?” rayu Elsa.
          “Malu gue, El. Terus males juga, kapan-kapan aja yaaa?” senyum Dara mengisyaratkan permohonan.
          “Udah ayo bareng-bareng,” tukas Asya.
          “Bener ya bareng-bareg?” tanya Dara meyakinkan tawaran temannya.
          “Iyaaaaaaaaaaaaaaaa,” ucap Asya, Claudy, Elsa dan Dinda berbarengan.
          “Yaudah,”
          “Lu di samping Rezky dong, Ra.”
          “Ah, bawel yaaa,”
Selesai ‘take a picture seperti biasa teman-teman Dara menggodanya. Tak lama kemudian, guru bahasa inggris-pun datang, Rezky keluar kelas, karena memang Rezky da Dara memang berbeda kelas. Para siswa belajar as usual.
*****
Jantung berdebar kencang, saat aku mengetahuinya, jiwa seperti terbentur benda keras, menyisakan bekas di jiwa. Aku bodoh, aku tahu namun aku tak sadar.
          Saat siang hari, matahari terasa sangat menyengat, tak ada angin yang lewat sedikit-pun, sangat gersang. Asya, Claudy, Elsa, Dinda dan Dara untuk lunch di sebuah resto dekat sekolah mereka.
          “Eh, Ra gue tau Rezky suka sama siapa.” tutur Elsa.
          “Ya, terus?”
          “Eh, siapa-siapa kasih tau dong,” kata Asya.
          “Gue juga,” ucap Dinda
          “Gue jugaaaaaaaaaaa dong, El.” Claudy ikutan. Dara dijauhi karena ia tak boleh tahu tentang hal ini.
          “Tapi, jangan nyebar ya ini rahasia loh!” ujar Elsa usai membisikkan teman-temannya.
          “Ah, kasih tau dong! Jahat banget nih kalian semua sama gue,” wajah Dara memelas.
          “Yah, maaf ya soalnya kata Rezky jangan nyebar rahasianya.”
          “Ko mereka boleh tau, gue enggak? Oke ya gitu kalian semua,”
          “Yaaah, nanti lu malah galau kalau dikasih tau, Ra.”
          “Gue malah galau nih sekarang!” gumam Dara.
          “Ya, kasian banget lu, Ra. Sabar yaw haha.” balas Asya.
          “Eh, gue ke toilet dulu ya,” pamit Elsa.
          “Hey, hey, hey kalian semuaaaaaaaa, please kasih tau! Janji gak bilang siapa-siapa, daripada gue galau terus-terusan, mending yang mana? Cepeeetan.” Dara memaksa.
          “Mending lu yang galau sih sebenernya haha, enggalah aku kan sayang Dara,” ledek Claudy.
          “Gimana nih?” tanya Dinda.
          “Udah kasih tau aja,” balas Asya.
          “Iya, bener udah kasih tau aja. Kasian anak orang,”
          “Janji jangan bilang ke Elsa kalo kita ngasih tau ya?”
          “He’eh, tampar nih, tinggal ngomong aja lama banget,”
          “Tenterengtengtengteng,”
          “Lu kira upacara di Buckingham kali nadanya kaya gitu,”
          “Cepet!”
          “Dira, Ra,”
          “Lu salah kali, Dara harusnya mah itu.”
          “Yee, ngarep,”
          “Feeling gue sama,” jelas Dara.
          “Katanya Rezky suka sama Dira udah dari kelas 7. Eh? Keceplosan.”
          “Aku galau, aku galau, aku galau sekarang, sekarang, aku galau, aku galau, aku galau sekarang,”
          “Gila, lu, Ra haha!”
          “Biarin,”
          “Hush, udah kasian lagi pelampiasan dia, diemin aja.”
          “Gue mau nyanyi denger ya, Ku suka si Rezky, Rezky suka Dira, namun apakah mungkin kau menjadi milikku, kau akan menjadi, menjadi miliknya, namun salahkah aku, bila ku pendam rasa ini, nanana nana na nana nanana na na nanaaa, horeee,”
          “Hatinya tak seceria perilakunya, kasian banget ya sahabat gue yang satu ini.” ledek Claudy sembari memeluk Dara.
          “Jodoh itu akurat ya, antara Dara dan Dira cuma beda satu huruf.”
          “Gausah nyindir gitu, kek, Din”
          “Eh, udah-udah ssst diem ada Elsa,” Elsa kembali dari toliet, after a few minutes, the food came and they eat together while laughing cheerful foget the problem that exist.
At night on the same day.
          “Ngapain sih, Rezky sms gue. Sukanya sama Dira juga. Bukannya sms-an sama Dira aja kek sana.” Dara beceloteh dalam hatinya. Tapi, sms itupun tetap dibalasnya, tanpa panduan dari sahabat-sahabatnya.
To: Rezky Zein
Kenapa gak sms Dira aja;p?
From: Rezky Zein
Gue lagi bete sama Dira, gue netral sekarang gak suka sama siapa-siapa.
Sms-an itu terhenti ketika 2 sms setelahnya dibalas. Karena Dara kehabisan kata-kata dan dia malas dengan sikap Rezky yang menurut Dara, bisa dibilang muna. Wallpaper handphone Dara, kini telah berganti dari fotonya with Rezky, menjadi sebuah foto, bergambar boneka kecil tertidur di samping tulisan,”I’ll try to forget you and moving on.” Tapi sesekali ia masih melihat fotonya bersama Rezky, dan berkata dalam hatinya,”What the hell?”
*****
Ku sadari meski bintang bersinar di langit indah. Aku tak akan mampu menggapai sinarnya Dirimukan selalu di sana dengannya. Takkan berubah meski cintaku kamu. aku suka kamu. Aku mungkin hanya bermimpi.
As usual, Dara selalu sharing dengan sahabatnya, mengenai apa yang ia alami dan yang ada kaitannya dengan Rezky.
          “Claudyyyyy,” teriak Dara.
          “Eh? Apa?”
          “Masa Rezky muna, deh, Dy. Dia ngakunya sama gue netral gak suka sama siapa-siapa, katanya bete sama Dira. Gue yakin sih itu enggak bener. Dengan cara Rezky bilang kalau dia gak suka sama siapa-siapa itu sama aja kalau dia ngasih harapan yang lebih lagi ke gue,”
          “Ya Allah, Rezky parah abis. Liat ya smsnya. Mana?”
          “Itu,”
          “Oh iyaya, Claudy membaca sms Rezky dengan serius.
          “Rezky sms ada aku-akuannya?”
          “Kalo itu mah bercanda paling, Dy.” terang Dara.
          “Iya sih. Yaudah, Ra mulai sekarang ya, mendingan lu move on aja deh, Ra daripada kalian kayak gini terus ya kan? Belum lagi kalau misalnya Dira tau, lo suka sama Rezky?”
          “So hard,”
          “Pasti bisa ko, Ra.”
          “Lu sendiri emang udah move on dari Haikal haha?” sindir Dara.
          “Belom sih hahaha,”
          “Yahtuhkan, sendirinya aja gak bisa move on, nyuruh orang lain move on,”
          “Yaudah sekarang gini, terserah lu. Intinya ya, semakin lu suka sama Rezky semakin pula lu dimainin sama dia,” Asya ikut andil dalam hal menasihati Dara.
          “Separah itukah?”
          “Bisa jadi,”
          “Kejam,”
          “Mungkin,”
After school, hujan deras membasahi SMPN 17 Jakarta Barat, petir menyambar saling bersautan, kilat berkedap-kedip. Angin berhembus kencang. Langit semakin gelap, bentuknya-pun tak tampak.
“Nyesek banget gue kalau jadi lu, udah jangan diliatin ya,”
“Bener kata lu dong, Ra kalau Rezky itu muna,”
No matter,”
“Sabar ya, Ra cowok bukan dia doang ko. Kan masih ada mantanmu tuh si Fadli, balikan sana balikan haha,”
“Kapan ya gue bisa boncengan berdua gitu sama Rezky, kayak Rezky sama Dira? Kapan?”
“Hush, udah jangan diliatin!”
“Rezky mau kemana deh sama Dira?” tanya Elsa mengalihkan pandangan Dara yang tadinya ke arah Dira dan Rezky yang sedang bersiap mau boncengan berdua.
“Bentar ya gue mau ke sana!” Elsa bergegas lari ke arah parkiran motor SMPN 17.
“Eh, eh itu Elsa mau ngapain?” tanya Asya kepada Dara. Dan Dara hanya memberi jawaban menggunakan isyarat yang menjelaskan dia tidak tahu.
The evening,
          Dara merebahkan tubuhnya di kasur, sehabis makan malam, lalu terbangun sembari mengotak-atik cellphone-nya. “Gak ada PR,” pikirnya dalam hati. Diambilnya notebook dari tas-nya beserta modem, membuka sebuah situs internet, twitter lebih tepatnya. Usai membalas mention, menge-check followers dan mengecheck retweets-an. Dara berfokus ke timeline-nya, lalu muncul tweets dari Elsa.
ElsaHN: Ciye banget ya yang boncengan berdua (*link foto*) *poke @RezkyZein @agathadiraa
          “Elsa jahat nih, nge-upload foto mereka berdua kaya gini disaat gue lagi on, biar apa coba? Biar gue panas gitu ngeliatnya? Oh.” komentar Dara, sorot matanya tak henti melihat foto itu.
          Dilihatnya lagi timeline, banyak dari teman-teman Rezky dan Dira menggoda mereka dengan kata “JADIAN”. Dara tak kuasa melihatnya lalu men-sign out twitternya, meletakkan laptopnya di atas meja belajarnya dan terbaring di kasur. Dara menulis semua yang ia rasakan di memopad handphone-nya, dan sharing ke sebuah boneka kecil yang ia beri nama Rara.
Memopad : So damn:”! i’m going to cry. I was cry because you. I lke you but you like her. It’s first time i’m crying because a guy. shit! My heart is hurt. Help me godJ! Please send me an angel.
                “Bila aku tak berujung denganmu. Biarkan kisah ini ku kenang selamanya. Tuhan tolong buang rasa cintaku. Jika tak kau ijinkan aku bersamanya. Inilah saatnya aku harus melepaskan dirimu. Huuuu!” Dara menyanyikan lagu She-Apalah arti cinta diiringi musik di ponselnya. Dan dara terlelap bersama air matanya. Ini kali pertamanya ia menangis, karena a boy.
*****
            Bersamamu aku bisa senang, tapi aku bisa sedih. Aku senang karena aku bisa berada di dekatmu, dan aku sedih karena aku tak bisa akrab denganmu, seakrab mereka terhadapmu. Karena aku? aku punya rasa yang beda. Mereka mungkin hanya menanggapmu teman. Tapi aku? You’re special boy.
          Setelah seharian lamanya Dara dan anak-anak lainnya menjalankan study tour ke-Bandung. Bus adalah tempat terasik bagi Dara dari ke-3 tempat yang mereka kunjungi hari ini. Di bis mereka bisa tertawa, bernyanyi, mengobrol dan masih banyak lagi.
          “Aji sama Fitri duduk berdua, Asya sama Syahrial pernah suap-suapan. Rezky sama Dira bonceng-boncengan. Gue waktu pacaran monoton banget kayaknya haha,” tutur Dara yang sedang mengobrol dengan Aji.
          “Gue panggilin Fadli nih! Haha,” jawab Aji.
          “Jangaaan!”
          “Apaan, Ra lu bilang?” tiba-tiba Rezky menghampiri Dara.
          “Ah apaan? Barusan gue cuma bilang kalo lu bonceng-boncengan sama Dira.”
          “Terus kenapa?”
          “Yaaaaa gapapa.”
          “Perasaan lu gimana pas ngeliatnya,” tanya Rezky, dan Dara yakin sebenarnya ia sudah tau jawabannya.
          “Biasa aja,” jawab Dara sekenanya.
          “Yakin?”
          “Yaakin,”
          “Bener nih yakin?” Rezky menatap Dara lekat-lekat tapi Dara justru melihat ke arah belakang, seraya berbicara dalam hatiny,”Mau banget emang gue cemburuin?”
          “Ish, yakin. Udah ah gue mau duduk!” gumam Dara.
          “Yaelah santai aja gausah bohong kali. Temen lu aja ada yang bilang, kalo lu itu gak biasa-biasa aja pas ngeliatnya,”
          “Dih enggak,”
          “Yah ngambek deh, waktu itu sms gue langsung gak dibales,”
          “Siapa juga yang ngambek,” Dara mencari tempat duduknya, karena sedaritadi ia mengobrol dengan Aji sembari berdiri.
*****
Mungkin ini saatnya, saat untuk aku merelakanmu, mungkin ini saatnya aku tak lagi cemburu melihat dirimu dan dirinya. Mungkin ini saatnya menghapus ingatan tentangmu.
            “Ra, kan gue udah sering bilangin ya, daripada lu kayak gini terus mendingan lo pindah ke lain hati aja,” Aji menyarankan.
          “Pindah ke hatinya siapa, Ji? Kalo guenya udah stay di sini gimana?”
          “Yah mana gue tau,” Obrolan singkatnya dengan Aji kala itu, kini berlalu lalang di otaknya.
          “Wey, bengong aja ahaha, eh gue udah bisa move dari Haikal dong hehe,” sapa Claudy membuyarkan lamunan Dara.
          “Eh? Ah, elu ngagetin aja haha. Kok bisa?”
          “Bisa dong. Makanya niat,”
          “Yang lain kemana?” Dara mengalihkan pembicaraan.
          “Siapa?”
          “Elsa, Asya, Dinda?”
          “Oh, itu lagi mau ke sini.”
          “Darimana, Din?”
          “Koperasi,”
          “Ohya, Ra, kemaren menurut gue Rezky itu kayak manas-manasin lu gitu deh. nyuapin gue di depan lu, nyuruh lu nge-foto Rezky sama Asya, deket-deket sama Dinda, ngomongin Dira di depan lu, lu gak cape ya digituin? Lu kan juga punya perasaan?”
          “Heh?” Dara hanya mengernyitkan dahi.
          “Mendingan lu itu move on, Ra move on, move on. Daripada lu kayak gitu terus.”
          “Apa hari ini hari move on sedunia ya? Daritadi banyak banget yang ngoong move on,” pikir Dara dalam hatinya.
          “Iya, tuh, Ra.” Dinda menyetujui pendapat Claudy.
          “Kenapa semuanya jadi mgomongin move on deh? Bosen tau!”
          “Tau nih! Ehya, ada yang mau ikut gue ke yayasan gak/. Semacam panti tapi khusus orang cacat aja?” usul Elsa.
          “Gue mau, tapi dimana?”
          “Di daerah Kebon Jeruk,”
          “Gue ikut!” ucap Dinda.
          “Hmm, gue juga ah!” tambah Dara.
          “Gue mau bangeeeeeet, seru banget kayanya, El ke panti,” tutur Claudy.
          “Okey, sip nanti jam 3 sore kalian ke rumah gue ya? Berangkatnya dari rumah gue aja,”
          “Iyaaaaaaaa,” jawab mereka.
*****
Ada hal yang lebih indah dari khayalan memilikimu. Aku harus terlebih dahulu mencintai diriku sendiri, menghargai diriku, dan mensyukuri apa yang aku punya. Aku harus bahagia dengan diriku sendiri. Baru aku meilhat sekelilingku, dan menemukan keindahan yang baru. Hidup ini bukan hanya tentang aku, kamu dan dia. tapi tentang aku, kita dan mereka.
          Sorenya pukul 03.00 Asya, Claudy, Dara, Dinda sudah berkumpul di rumah Elsa, menumpulkan sumbangan yang akan mereka bawa, untuk di berikan di sana nantinya.
          “Udah itu di jadiin satu plastik aja,”
          “Sip, udah.”
          “Yaudah, yuk jalan!”
          “Bentar, kalian daritadi kan belum minum. Minum dulu ya.” tawar Elsa.
          “Okew, jangan lama-lama ya ngambilnya,” dengan sergap Elsa menyelinap ke ruang dapur rumahnya.
          “Nih, cepet kaaaan,”
          “Lu jalan apa terbang, El?”
          “Jalanlaaah, dikira apaan terbang. Udah nih minum biar seger,”
          “Ini siapa yang bikin milkshake-nya?”
          “Gue hihi. Makanya gue maksa kalian buat minum dulu, gue pengen minta pendapatnya, enak apa enggak?”
          “Enak,”
          “Banget,”
          “Serius? Gue bakat dong jadi koki, haha.”
          “Yeee, haha. Enak si sebenernya.”
          “Udah kan?”
          “Yuk!” mereka pergi ke Yayasan dengan menggunakan sepeda motor sesampainya di sana. Mereka di sambut anak-anak, yang bahagia melihat kedatangan mereka. Mereka bermain bersama.
          “Tuh, Dy, mereka aja yang punya kekurangan bisa bahagia? Nah, elu? Galau mulu kerjaannya, bangkit dong!”
          “Yee, sorry ya gue mah anti galau, Ra. Emangnya elu.”
          “Gue udah bisa moving on, ko. Gue mikir, kita aja yang kehidupannya nyaris sempurna. Kurang bersyukur dan malah memikirkan hal-hal yang sebenernya gak penting buat diri kita. Tapi, mereka justru lebih bahagia daripada kita. Maka dari itu, gue pengen bahagia, dalam keadaan suka ataupun duka kayak mereka.”
Malamnya,
Memopad: Bermain bersama mereka membuatku mengerti arti hidup. Mengerti arti nik,mat, hikmah, kebahagiaan sesungguhnya. Dan juga membuatku mengerti arti bersyukur. Bersyukur sesungguhnya, yang bukan hanya di saat suka. Tuhanku, aku mengucapkan terimakasih. Terimakasih atas semua ini, Dan terimakasih anak-anak di panti sana. Hidupmu memberi makna dalam hidupku

Untukmu dan untuknya, aku merelakan semuanya. Aku yakin suatu saat nanti, bila aku jodoh dengan siapapun orang itu tuhan akan mendekatkan aku pada orang itu. Tuhan telah menyembunyikan kebahagiaan dibalik kesedihan. Dan apabila kita tidak menghapus kesedihan itu, kesedihan tidak akan pergi sendiri. apabila kita tidak menggali kebahagiaan, maka kita tidak akan menemukannya~Salsabila Tantri Ayu
Tamat~
 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review