Jumat, 16 Desember 2011

Aku dan Hidupku part 2 (cerpen)

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 06.11
Reactions: 

Ini lanjutan dari Aku dan Hidupku part 1, bila belum mebaca saya sarnkan untuk membacanya terlebih dahulu dengan cara mengklik link ini ® http://teenactive-salsabila.blogspot.com/2011/04/kesepian-cerpen.html
                “Pa, terus kita harus gimana, Pa? Aku mau ketemu Kak Savitri, Pa. Ayo, antarkan aku, Pa!”
                “Sayaaaang.” Papa membelai wajahku dengan kedua tangannya.
                “Papa, kenapa diam, Pa?”
                “Aku tahu, Pa. Di dunia ini gak ada lagi orang yang sayang sama aku, Pa. Cuma kak Savitri yang sayang sama aku, dan sekarang aku harus kehilangan dia? Dimana keadilan tuhan, Pa? Dimana?” aku menangis dan tertunduk lemas. Tak lama, aku pingsan.
                “Er, kamu dimana sekarang? Haruskah aku ke tempat kejadian? Laira pingsan dikamarnya sekarang.” (Bila sedang tidak ada aku, papa memanggil mama dengan nama asli, begitupun sebaliknya)
                “Aku butuh kamu, Fi disini. Sekarang saya masih berada di daerah sekitar bali, mungkin ini berada di perbatasan antara Bali dan Jawa Timur.” Aku tersadar, aku mendengar pembicaraan mama dan papa lewat telefon. Mama, tak perduli aku pingsan? Aku memang tak berarti bagi mama.
                “Di daerah mana kamu, Er? Setelah Laira sadar aku akan kesana.”
                “Aku ada di Rumah Sakit yang ada di sekitar Teluk Bali di Kota Penginuman, tapi, kamu naik apa? Tidak mungkin ada bandara di daerah seperti ini?”
                Papa hening, akan berapa lama papa sampai tujuan, bila naik mobil.
                “Kahfi? Baiklah, kamu tidak usah kesini. Nanti aku beri kabar.”
                “Tapi, Erina?”
                “Percayalah.”
                “Okey,”
Papa menutup telefonnya, aku masih bingung dengan semua kejadian ini, Kak Savitri merupakan penghubung antara mama dan papa, setelah Kak Savitri tidak ada? Mungkinkah aku benar-benar tidak punya mama? Jahat sekali hidupku meperlakukanku. Akupun berdo’a kepada Allah.
“Pa?” kataku.
“Ra, kamu sudah sadar? Syukurlah.”
“Pa, sebenarnya mama sayang tidak, Pa sama aku?”
“Kenapa kamu nanya itu? Jelas mama sayang, dong.” Ujarnya tersenyum.
“Papa yakin? Tadi di telefon, mama tidak menanyakan kabarku, setelah papa beri tahu kalau aku pingsan, tapi mama mengacuhkannya. Mama tidak perduli sama aku, Pa. kalau misalnya aku ikut dalam pesawat itu, dan aku tenggelam dan aku meninggal, apa mama juga tidak perduli dengan aku, Pa?”
“Kamu. Sst, don’t say it!”
“Pa, terus kita harus gimana, Pa?” papa menyalakan TV yang ada di kamarku, dan mencari-cari channel yang sedang menyiarkan berita.
“Kita tunggu kabar dari mama.”
Tak lama handphone Papa berdering.
“Kahfi?”
“Iya, Ma?” papa menggunakan kata ‘mama’ karena ada aku disampingnya.
“Savitri ditemukan dalam keadaan luka berat, dia akan dirawat di Jakarta. Dan hari ini juga akan diterbangkan ke Jakarta.”
“Alhamdulillah, oke, Ma nanti usai adzan maghrib Papa akan ke Jakarta.”
Papa menutup telefonya.
“Kakak gimana, Pa?’
“Dalam keadaan luka berat, kita ke Jakarta habis manghrib, kemaskan barangmu sayang. Kita akan ke Jakarta beberapa hari, nanti Papa yang akan menelfon wali kelas kamu karena kamu tidak masuk.”
“Iya, Pa. Pa?”
“Kenapa lagi?”
“Ayo ikut aku sebentar keluar.” Aku berlari ke luar sampai ke pantai, “Pa, kemarin aku disini sama Kak Savitri, Pa melihat sunset. Kak Savitri suka tempat ini, ia mempotret keindahan tempat ini, Pa. Dan papa tahu, Pa? Kamera Kak Savitri ketinggalan disini, mungkin Kak Savitri berpesan agar aku menjaga kameranya, dan mungkin potretan indah itu akan menjadi kenangan aku dengan Kak Vitri. Tapi, aku nggak kuat buat buka semua foto-foto di dalamnya, senyumnya selalu membuat aku menangis, Pa. Karena aku merasakan ketulusan dari dalam dirinya. Dia sangat sayang, aku juga sebaliknya. Dan sekarang dia kritis. Aku harap aku bisa seperti kemarin bersama Kak Savitri, Pa.” tersadar aku menangis. Kenapa hidupku selalu penuh dengan tangisan? Apa aku ditakdirkan untuk terus menangis? Apa, menangis adalah hidupku?
I'm sure God will give the best for us, Keep patient, dear. God will give our the best. Ayo, kita pulang. Bereskan semuanya.”
“Papa, pulang duluan aja.”
“Yaudah, tapi kamu jangan lama-lama ya sayang.”
“Iya, Pa. Percaya sama aku.”
Aku duduk di bangku panjang yang menghadap ke arah sunset. Aku melihat bayangan Kak Savitri sedang menari-nari bersamaku seperti kemarin. Bayangan itu telah pudar sekarang. Karena matahari telah tenggelam.
“Raraaa? Udah malem, Ra? Kenapa kamu sendirian?” (Rara panggilanku di sekolah) tanya Petra.
“Aku cuma mau liat sunset aja ko, Tra. Kamu sendiri?”
“Habis beli, spagheti buat makan malam. Aku antar pulang ya?”
“Gak usah, Tra. Aku masih mau disini.”
“Aku tinggal dulu ya, Ra.”
“Okey, Tra.”
Aku lekas berdiri, tapi, ketika aku berdiri aku dihampiri oleh seorang gadis yang menurutku seumuran denganku. Dia menyapaku.
                “Hey?”
                “Oh, hey. Who are you?”
                “I’m a tourist, my name is Caroline. I come from Germany.” sapanya tersenyum padaku.
                “Oh, my name is Laira. What’s wrong?”
                “I saw you cry on the chair, is it true? Or am I wrong to see?
                “Yes, it’s true. Why?”
                “Oh,  sorry if you do not like me asking about it to you, I want to ask, where is this road?” tuturnya sembari  memberi saya sehelai kertas, yang bertuliskan nama jalan disini.
                “Sorry, Carol. I don’t know. Excuse me i must go, my father waiting me at home.”
                “Oh, yeah allright. Nice to meet you.”
                “Nice to meet you to.” Aku pergi meninggalkan caroline dan aku pulang ke rumah. Sampai di rumah papa berdiri berjalan bolak-balik layaknya setrika. Aku yakin papa mengkhawatirkan aku karena aku belum pulang.
                “Assalamu’alaikum, Pa.”
“Lairaaaaa. . kenapa lama pulangnya? Papa khawatir sama kamu, sayang.”
“Aku tadi ketemu Caroline, Pa. Dia nanya alamat, alamat rumahnya Petra, Pa. tapi tadi aku bilang nggak tahu sama dia. Yang patut papa khawatirin itu Kak Vitri, Pa. Bukan aku.”
“Kenapa kau bilang gak tahu sayang? Kamu kan anak papa juga.”
“Aku takut papa kelamaan nunggu aku. Pa, aku sholat maghrib dulu ya, Pa.”
Usai sholat, aku mengemaskan barang-barang ke dalam koperku yang berwarna ungu, hadiah dari nenek, aku ingat nenek–aku kangen nenek, nenek dari mama. Kalau misalnya dia ada disampingku pasti aku nggak akan broken home kayak gini, nenek gak setuju kalau papa sama mama pisah. Nenek yang selalu ngingetin mama biar gak terlalu sibuk sama kerjaannya. Ku raih kamera Kak Savitri ku peluk erat. Lagi-lagi aku menangis, aku berbicara dalam hati, tuhan kenapa aku selalu menangis, tak bosankah kau membuatku menangis, sesungguhnya apa salahku tuhan, jangan adakan lagi tangis ini, ku mohon.
“Ra? Udah selesai?”
                “Udah, Pa.” aku sama papa langsung ke Bandara, dan aku tertidur di pesawat. Setelah sampai, aku dan papa ke hotel dekat Central Park. Kami mendapat kabar kalau Kak Savitri dirawat di Siloam Hospitals , Kebon Jeruk. Aku segera kesana. Sampai di sana, aku mencari kamar Kak Savitri. Aku kaget melihatnya, Kak Vitri seperti mumi yang dibungkus aku lirih banget liatnya, aku lirik ke arah handphone, wallpapernya photo aku dan Kak Vitri yang cantik, lirih dan sedih banget ketika ngeliat keadaan Kak Savitri kayak gini. Gak usah di ceritain lagi, aku meneteskan air mata. Aku masuk ke dalam kamar tersebut.
                “Mamaaaaa.” Aku memeluk mama dengan refleks. Mamapun juga. Betapa beruntungnya kalian semua yang bisa dipeluk mama setiap hari, aku? Sekian tahun aku menunggunya.
                “Ra . . .” Kak Vitri berbicara terbata-bata.
                “Kakaaaaaaaaaaak. Aku bawa kamera kaka. Kita ke Bali lagi yuk, Ka.”
                “Pa, Ma, Ra, a-ku gak ku-at ra-sa-nya sa-kit ba-nget.”
                “Kaka harus kuat ya kaaaa.. aku disini, Kak.”
                “Kalau misalnya kamu gak sanggup, Papa rela, Vit.”
                “Mama juga, Vit.”
                “Mama sama Papa ngomong apa sih, aku mau Kak Vitri bertahan. Kalian semua jahat.”
                “Kasian kakak kamu sayang, kita harus rela.” Tak lama mama bilang demikian, tampilan layar monitor yang menunjukan detak jantung, berubah menjadi lurus semua. Pertanda, nyawa Kak Vitri sudah dicabut oleh yang kuasa.
                Pemakamanpun berlangsung, kini tinggal aku sendiri, tak tahu sanggup atau tidak melanjutkan hidup ini. Menangis dalam kesendirian.
Ketika sampai di hotel, aku membuka jendela hotel dan menggoreskan penaku pada sehelai kertas.
Kematian merupakan takdir tuhan
Kematian datangnya seketika
Kematian menjemput orang yang ku sayang
                Aku benci kematian
                Sangat benci kematian
Tiba-tiba angin berhembus kencang, saat aku mau mengambil pulpen karena pulpenku habis, kertasnya melayang keluar kamar.

Buat lanjutannya baca di Aku dan Hidupku part3 yahJ

4 comments:

Alif Shaun The Sheep mengatakan...

Cepetan ya part 3 nya , penasaran nih ..

Anonim mengatakan...

Ceritanya keren abiz.

Anonim mengatakan...

Aku lebih suka part ini . . 'hurt' nya lebih kerasa disini daripada di ending . . hehee . . :P kalimatnya juga lebih 'menusuk' yang disinie. . . ^^
sa1_itac. .

salsabila tantri ayu mengatakan...

@anonim : iya ya? wah nanti aku mau bikin cerpen yang bikin HURT banyak orang ya:p eh iya makasih:)

Poskan Komentar

 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review