Sabtu, 16 Juni 2012

Sister In The Shadows

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 05.42

Matanya menyapu halaman sekolah, terlihat dua pasangan sahabatnya, maksudnya 4 ke-orang sahabatnya. Mereka adalah saudara kembar, Kevin dengan Kevina, Mieke dengan Mieka. Mereka termasuk dalam kategori saudara yang harmonis sekali, jarang sekali untuk bertengkar. Bahkan mereka saling melindungi dan memberi perhatian satu sama lain.
          Sedangkan Shelo, ya Shelo. Shelo adalah anak satu-satunya. Di dalam lingkungan yang di kelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang mempunyai saudara kandung, dia sering merasakan kesendirian dalam keramaian. Shelo mengalihkan pandangannya setelah puas menikmati kebersamaan mereka. Pandangannya terpusat pada seorang cowok yang sedang menikmati kesendiriannya, telinganya disumbat oleh earphone. Shelo ingin sekali berada di dekatnya, agar dia bisa menyatukan rasa kesepiannya menjadi rasa kebersamaan.
          “Shel, apa yang sedang kamu lakukan? Looking at someone?” Kevin mendekat, dibuntuti oleh ke-3 sahabatnya dari belakang.
          “No!”
          “I’m your bestfriend, sharing to me. Oh, aku tau kamu memperhatikan cowok di seberang sana ya?”
          “Emm, yaaa. Aku rasa dia juga sendirian, aku ingin ada di dekatnya. Supaya aku dan dia tidak merasa kesepain lagi.” curhat Shelo pada Kevin. Sahabatnya yang paling tampan.
          “Kamu gak, sendirian kok. I’ll be here for you.” sambung Mieke. Itulah cliche answer yang selalu Shelo dapatkan dari teman-temannya ketika Shelo bilang, Shelo sendirian.
*****
          “Ka, Mieka, Ka!” Mieke berlari dari luar kelas menghampiri saudara kembar dan sahabat-sahabatnya yang berada di dalam kelas.
          “Ada apa sih, Ke? Jangan terburu-buru seperti itu.”
          “Be..be..berita menarik!” sahut Mieke sembari manata emosinya dan mengatur nafasnya. ”Di mading ada pengumuman lomba duet. Ayo ikut! Kamu juga bisa Vina. Kamu bersama Kevin,”
          “Aku terlupakan,” jawab Shelo dengan mata terarah ke novel.
          “Eh, eh maksudku ....” sergah Mieke menyadari kesalahannya. Seharusnya ia memberitahu ketika tidak ada Shelo. Kevin seakan-akan memberi kode yang maksudnya ini adalah salah Mieke.
          “Eh iyaaaa, kamu bisa kok, duet bareng Reval? Dia pasti mau, dia kan suka sama kamu Shel. Tak mungkin jika ia menolak kesempatan ini.” Kevina menghibur Shelo.
          “Aku tak tertarik, maaf!” matanya masih ke novel.
          “Yakin? Ada Albraham loh!”
          “Albraham? Siapa dia?” Nama Albraham terasa asing bagi Shelo.
          “Kamu belum tau ya, cowok yang kemarin lusa di lapangan, yang sedang memasang earphone. Itu diaaaa.”
          “Oh, itu diaa.” mata Shelo berbinar.
          “Iya, yah siapa tahu aja ya, lewat ajang ini kamu bisa akrab dengan dia.” Kevin tersenyum menggoda Shelo.
          “Tapi, kalian yakin Reval mau?” pipi Shelo memerah mendengar kata ‘akrab’.
          “Menurutmu?” Mieke justru bertanya balik.
*****
          “Ma, Pa,” Shelo menghancurkan keheningan di meja makan, ketika sedang makan malam.
          “Kenapa sayang?”
          “Aku ingin punya saudara kembar, Ma, Pa.”
          “Idemu cukup gila sayang.”
          “Tapi, Ma. Aku pernah berkomunikasi dengan saudara kembarku, Ma, Pa.” usai Shelo berkata demikian, Mama dan Papa Shelo justru berpandangan dengan heran.
          “Maafkan Mama dan Papa sayang. Mama terlalu sibuk dengan dunia bisnis Mama. Begitu juga Papa. Sehingga kamu terlalu ekstrim untuk berhalusinasi.”
          “Mama sama Papa bicara apa sih? I’m seriously.” tutur Shelo lemah.
          “Tidak sayang, berhalusinasi seperti itu tidak baik,” sahut Papa.
          “Okey bila kalian tak percaya. Aku permisi ke kamar.” Shelo bangkit dari kursi makannya, dan melangkah gontai ke arah kamar. Ia membuka pintu dengan santai.
          “Hello saudara kembarku, aku datang,” sapa Shelo ramah. Sudah seminggu ini Shelo berkomunikasi dengan saudara kembar khayalannya berbicara tentang banyak hal, sampai-sampai Mama dan Papa heran sering mendengar Shelo berbicara sendiri. berulang kali Mama dan Papa menjelaskan bahwa ia adalah anak satu-satunya. Tapi Shelo tetap yakin, Shelo sering bertemu dan berbicara dengan saudara kembarnya itu.
          Mama dan Papa merasa bersalah, karena mereka terlalu sibuk, sehingga Shelo menjadi merasa kesepian dan Shelo sering berhalusinasi. Bahkan Mama dan Papa Shelo pernah membawa Shelo ke ahli psikologi tapi hasilnya mereka menganggap Shelo aneh. Mama dan Papa-pun pernah mengundang orang pintar ke rumah. Untuk mencari tahu, apakah ada makhluk lain yang sedang berkomunikasi dengan Shelo. Namun lagi-lagi hasilnya nihil. Papa dan Mama menyerah dan membiarkan Shelo seperti apa adanya dia.
*****
          Lomba duet-pun berlangsung sangat lancar. Walaupun mereka bukanlah juara. Namun benar apa yang dikatakan Kevin, Shelo menjadi sangat dekat dengan Albraham.
          “Shelaa!” panggil Albraham
          “Shelo, Al. Bukan Shela,” tukas Shelo tersenyum.
          “Maaf, Shel,” Albraham membalas senyum Shelo.
          “Iya gak masalah, ada apa?” Shelo tersenyum simpul.
          “Makan, di luar yuk!”
          “Eh?” Shelo menimbang-nimbang tawaran Albraham.
          “Plis!”
          “Hmm, okeee. Why not?”
          “Makasih, Shelaaaa.”
          “Shelo, huruf O,”
          Albraham sering mengajak pergi Shelo. Namun Al sering sekali memanggil nama Shelo. Shelo berfikir mungkin namanya terlalu asing, mungkin kebanyakan orang bernama Shela.
          Usai Shelo san Albraham makan, mereka berlalu menuju ke perpustakaan. Ternyata mereka mempunyai hobi yang sama, yaitu membaca. Mereka berdua terlihat semakin kompak dan cocok. Dan hingga suatu ketika, tubuh Shelo melemah, ketika di sekolah Shelo juga tidak beranjak dari kursinya. Sehingga Albraham berniat untuk mengantar Shelo pulang. Seketika sampai di ruamh Shelo, Shelo langsung di rangkul oleh kedua orangtuanya dan dibawa masuk ke dalam kamar. Sementara Albraham diminta untuk menunggu di ruang tamu. Karena kedua orang tua Shelo ingin berbicara dengannya. Usai membantu mengangkat tubuh Shelo yang lemah ke dalam kamar, kedua orang tua Shelo kembali ke ruang tamu menghampiri Albraham, yang sedang menikmati setiap sudut rumah Shelo.
          “Maaf, tante om ada apa ya?”
          “Jadi gini .. Oh ya sorry, nama kamu siapa?”
          “Saya Albraham tante,” sahut Albraham penuh sopan santun.
          “Oke, Al jadi gini, tante dan om mungkin tidak tahu ada hubungan apa antara kamu dan Shelo, tapi tante melihat kalian sangat akrab, jadi tante mau minta solusi sama kamu, akhir-akhir ini Shelo sering berbicara sendiri.”
          “Maksud tante apa ya?” Albraham dilanda rasa tak mengerti. Mama Shelo menjelaskan semuanya kepada Albraham, meminta solusi. Yah, minimal kalau tidak menemukan solusi, Mama Shelo menganjurkan Albraham menjadi kakak dari Shelo dan lebih dari teman. Tujuannya agar Shelo tidak merasa kesepian dan Al lebih intensif melindungi Shelo. Bahkan kedua orang tua Shelo menyetujui apabila mereka lebih dari teman, asal Shelo dijaga dengan baik. Orang tua Shelo memberikan waktu kepada Albraham untuk memikirkan saran tersebut. Setelah berpanjang lebar akhirnya Albraham pamit pulang ke rumah.
*****
          Hari ini Shelo tidak hadir ke sekolah. Di sekolah Albraham telah berencana untuk menemui ke-4 sahabat Shelo, untuk mendiskusikan sesuatu.
          “Aku ingin menceritakan semuanya,” sepotong kalimat yang Albraham pilih untuk memulai percakapan.
          “Kedua orang tua Shelo ...” Albraham menceritakan tentang saran kedua orang tua Shelo. Dan sahabat-sahabat Shelo memberikan respons yang positif terhadap cerita Albraham barusan.
          “Wah bagus dong. Kan kalian sudah sangat akrab,” gumam Kevina.
          “Tapi, masalahnya ..”
          “Apa?” Mieke mengangkat salah satu alisnya.
          “Aku telah memiliki orang lain, dan ia sedang pergi ke luar kota selama 6 bulan, untuk akselerasi dan lusa ia akan pulang. Namanya Shela wajahnya sangat mirip dengan Shelo. Oleh karena itu, aku selalu salah menyebut nama Shelo, aku hanya dekat dengan Shelo, karna aku ingin menghilangkan rasa kangen aku ke Shela. Maafkan aku, mungkin aku jahat tapi, beginalah kenyataannya.” Semua sahabat Shelo tertegun mendengar pengakuan Albraham. Selama 5 menit lamanya mereka diselimuti oleh kebisuan.
          “Kamu jahat, Al,” gerutu Mieka.
          “Iya, gimana kalau sampai Shelo tau?” air mata terbit dari kedua mata Kevina.
          “Aku minta kalian menemaniku untuk menjelaskan semua ini kepada kedua orang tua Shelo.”
          “Emm?” keraguan jelas terpancar dari raut wajah mereka.
          “Dan oh ya, orang tua Shelo bilang, Shelo menginginkan saudara kembar perempuan. Dan karna itu Shelo sering berbicara sendiri. mungkin keadaan lebih baik jika ada Shela. Shelo tak akan merasa sendiri,” rona semangat mulai terkuak dari wajah Albraham untuk menghapus semua kesalahannya.
          “Aku bersedia membantu,” jawab Kevin tegas. Diikuti anggukan sahabat-sahabatnya.
*****
          Ketika perbincangan dimulai di ruang tamu rumah Shelo sampai akhir, tanpa sengaja Shelo mendengarnya. Di satu sisi Shelo merasa senang karena dia akan mendapatkan saudara kembar baru, menurut rencana Papa dan Mamanya Shela akan diangkat menjadi anak mereka. Tapi di lain sisi ternyata Albraham ternyata sudah menjadi milik orang lain. Tapi Shelo berpikir, selama ini juga ia dekat dengan Albraham semata-mata agar tidak merasa kesepian.
Dan besok mereka semua akan menjemput Shela di bandara. Saat Mamanya ingin menceritakan hal itu kepada Shelo, Shelo menjawab bahwa ia telah mendengar semuanya.
*****
          Shela telah mengetahui semua rencana pengadopsian melalui Albraham, dan Shela pun telah menyetujuinya.
          Dan kini akhirnya Shela tinggal satu atap dengan Shelo . Shelo juga bersedia memaafkan kesalahan Albraham. Namun, ada fakta mengejutkan terungkap. Bahwa ternyata Shela adalah saudara kandung Shelo. Dulu ketika dilahirkan, Shela tak kunjung menangis dan nenek merekapun tak ingin menahan malu jika Shela kelak tumbuh menjadi gadis bisu. Nenek mereka menitipkan Shela tanpa sepengetahuan orang tua Shela. Mama dan Papa baru diceritakan oleh nenek ketika yang mengasuh Shela pindah rumah, sebelumnya nenek mengaku bahwa Shela diculik.
          Setahun kemudian Nenek Shela meninggal, Mama dan Papa berniat untuk mencari Shela. Namun, tak ada setitikpun informasi yang bisa mereka dapatkan. Akhirnya mereka menyerah dan hanya mengasuh Shelo seorang.
          Kini orang yang merawat Shela telah meninggal ketika Shela menginjak usia 15 tahun, Shela diberi sebuah pita rambut bertuliskan Shela&Shelo. Setelah kepergian pengasuh Shela. Shela tinggal seorang diri, kemandirian Shela-lah yang membuat Albraham kagum.
          Terlepas dari semua liku kehidupan, mereka kini telah menemukan titik terang. Dan hidup dalam sebuah keharmonisan sebuah keluarga.
         
Loving your brother/sister. Don’t waste them because a lot of people out there who don’t have it.

~End~
25 mei – 26 mei 2012

4 comments:

pasarmimpi mengatakan...

bagus*

Rastine mengatakan...

Kereeennn Sal.. :D menurutku yg kurang adalah penggalian karakter dari Shela.. ak maklum mungkin itu karena km lebih ingin menonjolkan karakter Shelo. Selebihnya udah oke kok :) ini cerpen tugas sekolahmu itu bukan? ^^

Salsabila Tantri Ayu mengatakan...

oh oke:) makasih sarannya:) iya itu cuma dikasih waktu sehari buat bikin:D

Salsabila Tantri Ayu mengatakan...

Makasih kak feeeeen! :)

Posting Komentar

 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review