Sabtu, 21 Januari 2012

Bukan Permainan

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 01.11
Reactions: 

“Fen, menurut lo, kemarin itu termasuk hari yang special gak?” gumam Raissa dengan wajah ceria.
          “Hmm, kemarin? Enggak biasa aja, gak ada apa-apa. Emang menurut lu kemarin itu special?”
          “Ada dong, kemarin tanggal duapuluh satu januari dua ribu sebelas, itu special buat gue,  Fen.” jelas Raissa, yang segera melanjutkan kata-katanya,”Farel nembak gue,” pekik Raissa dengan suara yang cukup keras dan mengundang orang-orang sekitar untuk meliriknya. Dan dia kembali menatap orang-orang itu dengan tatapan datar.
          “Terusssss, lo terima?” sela Fena antusias, dengan tatapan heran, dengan membalikkan badan membuatnya berhadapan dengan Raissa.
          “Gue ceritain di perpus aja, gimana?” Raissa mengangkat alisnya.
          “Eh, lo gila ya, gak tau kalau perpus itu tempat buat apa, kalau lu ngomong semuanya bisa denger satu ruangan. Nanti bisa-bisa kita di tendang sama penjaga perpus yang super killer!” cerocos Fena.
          “Gak usah pake kata gila,”
          “Kalau lu gak gila, gak usah marah dong!”
          “Arrghh!”
          “Iya, iya maaf. Udah ayo mau kemana? Mau ke kantin?”
          “Enggaaak, rame, banyak kakak kelas, di deket lapangan basket aja yuk, di koridor,” Raissa bergegas menarik tangan Fena, dan mengajaknya berlari.
          “Hhhh, capek,”
          “Mau tau gak ceritanya?” tanyanya dingin.
          “He-eh,”
          “Iya, gue terima,” jawabnya singkat.
          “Are you serious? Are you not lie to me?”
          “Serius,” balasnya singkat dengan pandangan ke arah lapangan basket. Dilihatnya, sekumpulan anak basket yang cool dan kece, termasuk Farel di dalamnya.
          “Lo cuma jawab sesingkat itu? Lo gak tau ya, jawaban lu itu gak sebanding sama lari-larian kaya anak kecil tadi!”
           “Lo mau gue ceritain semua?”
          “Iya,”
*****
          Tanggal 21 November 2011, handphone milik Raissa berdering melantunkan lagu, Secrets yang dinyanyikan oleh Maddi Jane, I need another story, Something to get off my chest, My life gets kinda boring, Need something that I can confess
Till all my sleeves are stained red.
Diambilnya handphone yang tadinya tergeletak di kasur, lalu melihatnya, ternyata ada sebuah panggilan masuk, ia segera mengangkatnya.
          “Sa?”
          “Eh, iya kenapa, Rel?”
          “Lo ada acara gak nanti malam?”
          “Ada, Rel,”
          “Yah, sayang banget dong. Acara apa?”
          “Makan bareng di luar sama Fena,”
          “Yah, itu acara gak penting, lu batalin aja, okey? Nanti malam gue mau jemput lo di rumah lo, lo tunggu gue di rumah ya, See you! Oh, ya jangan lupa dandan yang cantik ya,” Farel menutup telefonnya.
          “See you!” entah mengapa Raissa sulit untuk menolak ajakan Farel, akhirnya ia menerima tawaran itu, “Dandan yang cantik? Dia mau ngajak gue kemana? Kok gue jadi senyum-seyum sendiri dan deg-degan kaya gini,” pikirnya dalam hati. Raissa merenung sebentar untuk memutuskan acara apa yang akan ia hadiri nanti malam. “Apa gue harus ngebatalin acara makan sama Fena ya? Yaudah deh, gue batalin aja, kalau sama Fena kan bisa lain waktu, kalau sama Farel? Jarang-jarang bisa makan bareng anak eksis di sekolah,” batinnya.
          Berselang beberapa menit, dia sudah selesai menyakinkan sahabatnya itu. Dia beralasan bahwa dirinya harus menemani kakak dan mamanya ke mall untuk membeli baju, untuk acara ulang tahun kakaknya, satu minggu lagi. Padahal acaranya ulang tahun kakaknya sudah lewat bulan mei kemarin. Soalnya, kalau sampai Raissa beralasan ingin pergi dengan Farel, Raissa pasti akan diserbu oleh Fena menggunakan pertanyaan-pertanyaannya, yang Raissa sendiri bingun menjawabnya.
          Usai memberi kabar kepada sahabatnya, Raissa bergegas memilih pakaian yang cocok untuk dikenakan malam nanti. Raissa bingung antara pakai dress atau yang lainnya, soalnya tadi si Farel gak bilang mau makan, dia hanya bilang, Raissa harus tampil cantik.,”Ah, gue harus nanya siapa? Masa mau nanya Fena,” tekannya dalam hati, akhirnya Raissa memilih dress yang sangat simple berwarna ungu yang soft, dengan panjang selutut.. Tiba-tiba kakaknya datang ke kamar.
          “Lo lagi ngapain si, Sa? Hayo mau kemana? Mau dinner sama pacar?” goda Kak Salma, kakak Raissa.
          “Apaan sih, Kak. Aku gak punya pacar jugaaaa,” nadanya meninggi.
          “Ah masa? Lo mau pake baju yang mana, Sa?”
          “Yang ini,” jawabnya dengan ragu.
          “Emang mau ngapain?”
          “Gak tau,”
          “Gimana si?” lalu Raissa mencoba menjelaskan maksudnya.
          “Gimana? Cocok kan buat di pake di acara yang belom kita ketahui?” Kak Salma hanya membalasnya dengan senyuman dan anggukan.
          “Oh, iya, Sa. Nanti gue sama mama mau pergi, gue tadinya mau bilang itu, tapi, berhubung lo juga pergi, yah gak apa-apa sih,”
          “Tandinya Kak Salma mau ngajak aku, Kak?”
          “Yaps,”
          “Maaf, ya gak ikut,”
          “Iya, sayaang, yaudah jangan lupa cari sepatu, sama make-up ya,”
          “Taudeh yang sering diajakin dinner,”
          “Ish, dibilanginnya juga,”
          “Iya, kakakku, cium nih, jangan cemberut dong,”
          “Yaudah, ya byeeee!” seru Kak Salma, gadis cantik, berusia 18 tahun yang sedang berkuliah di Universitas Indonesia semester dua, jurusan sastra. Meninggalkan kamar Raissa.
          Raissa menyiapkan dirinya, dia bergegas mandi dan memandang wajahnya d cermin, selesai mengenakan gaun, Raissa menata rambutnya yang berponi depan itu. Rambutnya dibiarkan terurai. Setelah siap, Raissa turun ke bawah, ternyata mama dan kakaknya sudah pergi. Dia menunggu Farel datang. Bel rumah-pun berbunyi, Raissa segera keluar.
          “Udah siap?”
          “Eh? He-eh,” Raissa menaiki mobil Farel itu. Suasana di mobil hening, dan pada saat bersamaan, mereka menoleh dan serempak mengucapkan kata yang tidak jelas karena berbarengan.
          “Lo dulu aja,” Farel mengalah.
          “Kita mau kemana?”
          “Ke sebuah tempat,”
          “Ih, iya gue tau kita mau ke sebuah tempat, tapi kemana, Rel?”
          “Ke tempat dinner, Sa,” Farel tersenyum memandang Raissa, namun Raissa mengalihkan pandangannya ke jalan raya di depannya.
          “Heh? Emang ada acara apa? Lo ulang tahun kok tiba-tiba ngajakin gue makan?” jantung Raissa berdegup cepat.
          “Tapi, emang kenapa kalau gue ngajak lo? Gue maunya lo, gak kenapa-napa kan, Sa?” jawaban dari Farel membuatnya salting.
          “Eh, enggak, enggak apa-apa ko,” Raissa mencoba tersenyum menyembunyikan degupan jantungnya.
          “Yaudah kalau kaya gitu, lo gak usah bingung kita mau kemana,” sela Farel seolah dia bisa membaca pikiran Raissa saat itu.
          “Iya, oh, iya tadi lo mau ngomong apa?”
          “Gak jadi,”
          “Jangan bikin gue penasaran, Rel,”
          “Gue lupa,” tutur Farel singkat.
Tak lama mereka berdua sampai disebuah restaurant outdoor, tempatnya sangat bagus.
“Mau pesan apa, Sa?”
“Lo dulu aja, Rel,”
“Hemm, gue ini aja deh,” terang Farel menunjuk salah satu makanan favoritenya.
“Gue juga deh,” lanjut Raissa.
“Sa?”
“Haa? Kenapa?”
“Lihat ke atas deh, lo hitung sampai sepuluh,”
What for?”
“Jangan banyak tanya,” 10 detik menuju pukul 20.11.
“Okey,” Raissa menatap ke atas. Dan, kembang api bertuliskan “You know? I like you. Will you be my girlfriend?” tepat pada pukul 20:11, tanggal 20-11-2011. It’s so sweet.
“Ini semua, gue lakuin buat lo,” Farel menatapnya penuh harap.
“Ha? Kembang api ini harganya berapa, kan sayang uang dibakar,” sela Raissa. “Ini anak kenapa ya? Dikasih surprise malah kaya begini,” gumam Farel dalam hati.
“Tenang, Sa. Gue gak bayar ko, sekarang jawab kembang api tadi,”
“Hemm, gimana ya?”
Please...” matanya tersirat penuh harapan.
Yes, i want,” matanya berbinar, jantungnya berdebar. Farel mencoba meraih tangan Raissa namun, pelayan telah datang. Akhirnya dia mengurungkan niatnya dengan penuh kesalah-tingkahan. Makanannya udah datang, tapi mereka berdua malah diam penuh misteri, sampai Farel mempersilahkan Raissa makan, barulah Raissa makan.
“Hmm, gue, eh aku seneng banget hari ini, bisa jadi orang yang special buat kamu,” Farel membuka percakapan dengan gugup.
“Thanks, aku juga,” balsnya singkat dengan senyum termanisnya. Usai mereka semua makan, Farel mengajak Raissa pergi ke toko buku, ke mall, ke tempat alat musik, dan Farel memberikan Raissa sebuah gitar yang harga lumayan mahal. Lalu Farel mengantarkan Raissa pulang ke rumahnya.
*****
“Tapi, Sa?”
“Kenapa?”
“Sejak kapan lo suka sama Farel? Gue gak pernah denger kata Farel dari mulut lo? Lo gak pernah cerita? Bukannya lo Cuma suka sama Rio, lo dan Rio sama-sama suka, atau jangan-jangan lo jadiin Farel sebagai pelarian lu, akibat hubungan lo sama Rio Cuma sebatas suka sama suka? Ko bisa tiba-tiba lo jadian sama Farel?”
“Pertama, kalau nanya itu one by one, kedua, dia bukan pelarian,” Raissa menghela nafas.”Gue suka sama Rio dan gue suka sama Farel.”
“What?”
“Kenapa emangnya? Tapi, jangan bilang ini ke Rio,”
“Lo salah, Sa. Lo gak boleh gitu, Rio tambah sakit kalau dia tahunya nanti, bukan sekarang, mending kasih tau sekarang.”
“Kenapa salah? Gue jadian sama orang yang gue suka dan suka sama gue, gue gak mau Rio tau,”
“Sejak kapan lo suka sama Farel? Lo egois, Sa.”
“Gue juga gak tau, sejak kapankah,”
“Ha? Jangan bilang lo ngemodusin Farel?”
“Please, Fen. Gue enggak ngemodusin Farel, udah lo tenang aja gue pasti bisa lupain Rio,”
“Lo gak mikir perasaan Rio, Sa?”
“Hmm, kenapa si, Fen itu hak gue buat jadian sama siapa-siapa lo gak berhak ngatur gue, gue tau mana yang terbaik buat diri gue, gue tau gue sahabat lo, tapi bukan berarti lo yang nentuin hidup gue,”
“Terserah lah, lo egois, kalau gue jadi lo gue gak akan tega neglakuin hal itu ke Rio, Rio itu tulus sama lo, tapi lu tega ngelakuin itu, bahkan Rio gak boleh tau tentang hal ini,” Fena bangkit dari tempat duduknya, dan pergi ke kelas, dia berfikir tentang perasaan Rio, seakan merasakan kepedihan yang dirasakan Rio, karena Fena sempat suka kepada Rio, tapi, karena Fena tau selama ini, Rio suka sama Raissa dan Raissa suka sama Rio. Tapi Rio malu untuk menembak Raissa secara langsung. Fena mengalah. Alhasil, sekarang Raissa berkhianat. Fena bingung harus berbuat apa, Raissa sahabatnya begitupun Rio, Fena bingung, haruskah Rio mengetahui kebenaran, atau menjaga rahasia Raissa.
Continued to part 2J happy reading\m/

0 comments:

Poskan Komentar

 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review