Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kematian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Aku dan Hidupku Part 3

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 05.35 6 comments

Sebelumnya baca yang belum baca part 1 dan dua-nya dibaca dulu ya biar nyambung, ini linknya http://teenactive-salsabila.blogspot.com/2011/04/kesepian-cerpen.html dan ini http://teenactive-salsabila.blogspot.com/2011/12/aku-dan-hidupku-part-2-cerpen.html
          Angin, sampaikan rasa sayangku dan rasa rinduku padanya. Beritahu dia aku selalu sayang dengannya.
Sekarang aku tinggal di Bali bersama mama dan papa. Papa yang membujuk mama agar tinggal bersamaku, dengan alasan untuk menghiburku selepas kepergian kakak tercintaku. Tapi, mama hanya 1 bulan tinggal bersamaku, sungguh mengenaskan.
Semenjak kepergian kakakku aku jadi sangat pendiam dan selalu termenung, aku merasa mama bukan mamaku, aku tidak tahu mengapa mama perhatiannya tidak seperti mama-mama lainnya.
“Rara tungguuuuuuuuuuu!” sergah Petra.
“Gimana Kak Vitri udah membaik?”
“Kak Vitriiiii.. eh Kak Vitri meninggal,” hari ini aku kembali bersekolah.
“Ya Allah, inalillahi wainna ilaihi rajiuun, turut berduka cita ya, kenapa kamu gak kabarin aku, Ra? Siapa tahu aku bisa menyusul ke Jakarta,”
“Aku yakin kamu gak bisa,” sergahnya pelan.
“Oh, iya, Ra kemarin kakak sepupu aku ngeliat kamu di Kuta ya? Katanya kamu bilang, kamu gak tahu rumah aku? Kemarin pas aku ketemu kamu itu, aku habis beli spagethi buat dia, Ra,” jelas Petra
“Ya ampun, maaf ya, Tra. Aku gak tahu kalau itu kakak sepupu kamu,”
“Tapi, kenapa kamu bilang gak tahu, Ra?”
“Waktu kakak sepupu kamu itu, hari itu juga Kak Savitri kecelakaan dan aku harus buru-buru, Tra. Maaf ya,”
It’s okay, Ra.”
“Eh, iya. Aku pulang duluan ya?”
“Aku antar, plis!” Petra memohon.
“Hmm, no problem,” sahutku.
Sampai di halaman rumah,
“Thanks, Tra,” gumamku.
“Ya, kalau misalnya kamu kesepian aku bisa nemenin kamu ya, Ra,”
Thanks for your takecare, aku masuk ya?”
“Oh ya, Bye,” Petra tersenyum simpul.
“Bye,” ketika baru memasuki rumah aku mendengar keributan, samar-samar terdengar ada kata ‘sudah saatnya’ dan ‘anggap saja dia benar anak kandung’ di kalimat kedua yang aku dengar barusan. Air mata ku meleleh aku menghampiri kedua orangtuaku.
“Ma, Pa,”
“Sayang, kamu udah pulang? Kok lebih awal?” Papa berbasa-basi.
“Pa, Ma, apa benar aku bukan anak kandung kalian?” air mataku menderas, aku rasa hidupku sangat penuh dengan airmata, dan masalah yang datang bertubi-tubi.
“Bu bu bukan sayang, kami tidak sedang membicarakan kamu,” kilah Papa.
“Mama sama Papa sekarang jawab jujur!” nada suaraku meninggi, ku lihat mama sepertinya emosi.
“Iya! Kamu bukan anak kandung Mama,” kalimatnya penuh dengan penekanan dan suara tinggi. Duniaku hancur, berkeping. Dari mulai kenyataan di tinggal kakak sampai mereka berdua ternyata bukan orangtuaku. Kalian bayangkan, bila seandainya suatu saat, jika kalian sudah besar mama dan papa kalian bilang seperti itu, apa yang kalian rasakan? Aku belum pernah merasakan helaian dari orangtua kandungku, kecupan manis dari orangtua kandungku, dekapan hangat orangtuaku. Aku sangat lelah dengan hidupku.
          Tak lama tamparan cukup keras mendarat di pipi mama, entah karena apa papa menampar mama.
          “Kalian jahat!” teriakku. Aku berlari menuju ruang audio. Seperti biasa, aku menumpahkan segala amarah, kesedihan-ku di ruang itu, no day no sing. Aku menyanyikan sebuah lagu dan piano.
Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagiamu bahagiaku juga
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian
Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Kupercaya diri
Cintaku 
lah yang sejati
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti
Relakan ku pergi
Karna tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu 
aku kan jadi juaranya
(Malaikat juga tahu ~ Dewi Lestari)


Mama, kapankah kau hadir dalam hidupku, pertanyaan yang takkan pernah terjawab sampai kapanpun. Kusadari ternyata broken home lebih baik daripada tidak punya orangtua.
Di sudut kamar ini
Aku merenung dan terus merenung
Dengan tatapan lelah, dan mata yang sayu
Aku ini anak siapa?

Pandanganku beralih ke cermin
Kupaksa tubuhku bangkit dan menghampiri
Mataku memandang refleksi tubuh yang memantul
Aku ini anak siapa?

Ingin kubenturkan kepala ini
Biar lupa segala masalah
Aku ini anak siapa?
Sungguh, aku lelah
Aku ini anak siapa?
Sangat menganggu jiwaku
Oh, Tuhan Yang Kuasa
Berikanlah aku jalan,
Jangan biarkan aku menderita
Kalau ada orang bertanya
Siapa ayahmu? Siapa ibumu?
Ku hanya bisa menggeleng
Tak tahu harus menjawab siapa
Jangan sampai ini berlanjut
Aku tak kunjung tahu jawabnya
Hingga selalu sendirian dalam hidup
Dan menjadi jadi anak yang kesepian
Yang mana ayah?
Yang mana ibu?
Mengapa aku ditinggal?
Mengapa aku tidak tahu?
Jeritan histeris tak mampu membantu
Orangtuaku di mana, aku di mana
Oh, aku ini anak siapa?
Misteri tetap jadi misteri.
Aku yang tersisih dari hangatnya kasih sayang keluarga. Sakit aku rasakan, pedih aku nyatakan. Sejuta lagu sendu mengiringi langkah perjalanan hidupku. Indah dalam sanubari terkikis harapan yang semakin semu. Hamparan langit membentang di angkasa. Akupun sendiri dalam heningku. Ketenanganmu terusik oleh semunya harapku. Ayah, ibumu seakan semuanya hanya sebatas palsu. Mereka yang tak mengerti apa inginku. Memanjakanku dengan harta dunianya. Kikis sudah harapan, batinku terkekang. Mencoba meraih, peluk tak dirasa rintihpun mendera. Mencari makna, dingin aku dapatkan. Hampa dalam harap, asa tanpa makna. (karya Agni~dengan beberapa editan)
Akupun terlelap dalam tangisan. Keesokan paginya aku sekolah seperti biasa, aku menceritakan semuanya pada Zira, akupun menangis dalam dekapnya, aku butuh ‘Shoulder to Cry on’ dia adalah orang yang tepat.             
“Kamu gak mau tau siapa orang tua kandung kamu? kamu udah nanya?”
“Belum, aku takut,”
“Aku mau nemenin kamu,” sahutnya.
Dan hari itupun aku memutuskan untuk bertanya langsung kepada Mama aku takut mama masih emosi, aku takut!
“Mama,” Zira mengikutiku dari belakang, tapi mama tidak tahu kehadiran Zira.
“Rara, maafkan mama. Mama tahu mama salah,” pinta mama.
“Rara udah memaafkan mama, Ma, Rara boleh nanya?”
“Boleh sayang,”
“Siapa orangtua Rara, Ma? Tolong ceritain semuanya ke Rara,”
“Orangtua kamu adalah sahabat terbaik mama sayang, namanya Laira sama sepertimu dan Bastian, saat melahirkanmu, mama dan Laira serta Bastian sangat akrab, kedua orangtuamu adalah yatim piatu, pada saat itu, saat kamu berumur 5 bulan di kandungan, Bastian kecelakaan. Kondisinya sangat buruk, dan Laira depresi berat, sehingga dia mempunyai penyakit yang berbahaya, resikonya adalah dia meninggal atau kamu yang meninggal. Tapi dia, memilih kamu untuk merasakan indahnya dunia, dan merelakan dirinya pergi bersama Bastian ketika Laira melahirkan, mama dan papa menjenguknya, dan Laira menitipkan kamu untuk mama. Dan kalimat itu yang terlontar untuk terakhir kalinya, Savitri juga tahu tentag ini,”
“Aku harus berterimakasih denganmu, mama juga papa, telah ikhlas merawat Rara, Rara beruntung, Rara gak dibuang di jalanan,”
“Mama sudah berjanji pada Laira, untuk merawatmu, tapi mama melanggarnya, mama justru bercerai dengan papa, dan meninggalkan rumah, mama bersalah, Ra. Maafkan mama,”
“Mamaaaa,” aku memeluknya. Mama juga sebaliknya, “Makasih, mama sudah mau cerita, selama ini Rara benci mama, seandainya mama dan papa gak merawat Rara, pasti Rara sudah hidup sebatang kara,”
“Iya, sayang,”
“Aku bersyukur, Ma, antarkan aku ke makam, Mama dan Papaku, Ma,”
“Nanti sore kita akan kesana,” perkataan Mama diiringi tetesan air mata. Akupun tersenyum padanya, aku cukup merasa lega, hubunganku dengan Mama cukup membaik, tapi untuk Mama dan Papa kandungku, maafkan aku, aku tidak pernah mendo’akan kalian di alam sana. Aku tertidur, tak terasa langit sedikit lebih sejuk, aku terbangun melirik jam di handphone-ku pukul 03.00 aku segera bangun, mandi dan berhadapan dnegan yang kuasa, ku limpahkan segala perasaanku. Aku keluar mama, telah ada mama dan papa yang telah siap mengantarku. Sampai di pemakaman, tertera nama yang persis dengan namaku, Laira Salma dan Papa-ku Rio Bastian. Aku berlutut, menggenggam sebuah bingkisan bunga, untuk mereka.
“Mama, Papa, maaf selama ini Rara gak kenal kalian, dan gak pernah berziarah, Rara ingin Mama dan Papa hidup, berkumpul bersama,”
“Ma, Pa, sekarang Rara gak kesepian ada Mama dan Papa Rara yang kedua, Rara juga punya kakak yang baik hati, Ma, Pa. Namanya Kak Savitri, Mama sama Papa harus bilang makasih sama Kak Vitri dia yang udah ngejagain Rara juga, sekarang mungkin kalian bertiga berkumpul disana, Rara juga bertiga disini,” selesai aku mebaca do’a dan bercerita kepada dua malaikat, Mama dan Papa juga meminta maaf. Lalu aku, Mama dan Papa menuju makam Kak Vitri yang letaknya tidak berjauhan, tapi berbeda lokasi. Setelahnya aku pulang, aku menghampiri Mama.
“Mama, Rara mau ngomong,”
“Ngomong apa?”
“Ma, Rara mau mama sama papa bersatu lagi, Rara mau Mama tinggal selamanya bareng Rara, Rara kangen disaat bisa ketawa bareng sama Mama, curhat bareng sama Mama, belajar bareng Mama, ketika Rara dulu makan disuapin Mama, ketika Mama ngajarin Rara hal-hal tentang kehidupan, ketika Mama nganterin Rara sekolah, ketika Mama yang ngambil rapot Rara, ketika Rara diomelin Mama dan Rara ngunci pintu kamar, saat Rara cerita tentang temen-temen Rara, ketika Mama yang nyiapin sarapan Rara, saat Mama yang memakaikan Rara sepatu dan seragam saat dulu kecil, ketika Mama menyuruh Rara buat belajar, saat Rara ngadu ke mama kalau ada temen Rara yang jail. Saat mama yang masakin makanan Rara, kita nonton TV bareng, Rara kangen, Ma, kangen ketika Mama sering marahin Rara dulu, segalanya, Ma. Saat Rara pulang sekolah dan ada Mama di rumah, yang nanyain keadaan Rara, yang meriksain ulangan Rara, Saat Rara nangis dalam pelukan Mama. Rara udah gak dapet itu semua dari Mama, dan Rara mau Mama bersatu lagi sama Papa, supaya Rara bisa dapetin itu lagi, Ma.” mama memelukku lalu berderaian air mata.
That all isn’t as easy as you imagine,” kilah Mama.
Think about it all anymore, Mom! Please, for me.” tambahku.
I'll think about it anymore.” Kami tersenyum.
Sekarang sudah hampir 1 minggu dari hari bersatunya Mama dan Papa, aku sangat bahagia, sangat, sangat, sangat bahagia! Thanks’ God. Sekarang aku, Mama dan Papa sedang berlibur ke Singapore, kita mengunjungi tempat-tempat menarik, seperti Marina Bay, Esplanade, Patung Merlion, Fountain of Wealth. Aku sengaja membawa kamera milik Kak Vitri dan mendokumentasikan itu semua, sekarang aku merasa sangat beruntung. Tapi ketika aku, Mama, dan Papa sedang berada di Universal Studio, sudah hampir 5 jam kami berkeliling singapura. Tiba-tiba mama pingsan, mama segera dilarikan ke rumah sakit yang dekat dengan pusat kota Singapore, bernama ‘Singapore General Hospital’. Setelah diperiksa aku baru tau kalau Mama ternyata punya penyakit ginjal yang sangat parah, dan butuh pendonoran ginjal untuknya. Papa, segera mencari info tempat-tempat pendonoran ginjal. Stoknya habis semua, mungkin hanya perdagangan gelap yang menjualnya.
Tapi, Papa tak mau, aku masuk ke dalam ruangan dokter yang merawat Mama,”Doc, please take my kidney to my mother. I’m willing, Doc. Plis! I beg,” tuturku memohon
Are you sure? Donor kidneys can cause death.”
But, how if nothing is donates a kidney for my mother?
Your mother will die, because kidney disease is very severe..” mendengar kata mati dadaku sesak sekali.
If so, quickly grab my kidney. Fast!
Will not.” Aku mengambil sebuah peralatan tajam di meja peralatan doketr tersebut.
Now it's up. You want to or not. I'll still die. choose where? I died in vain or I die because help my mother?” kataku sembari mengarahkan benda tajam itu ke bagian tubuhku.
Please don’t! yes I will obey your word.
Thanks,
Sekarang aku yang terbaring lemah di Rumah Sakit, aku habis mendonorkan ginjal kepada Mama keduaku. Sungguh aku tak mau kehilangan orang yang aku sayangi untuk keempat kalinya. Bersyukurlah aku sekarang aku bisa sadar, setelah Papa dan Mama tahu, Mama dan Papa justru memarahi dokter yang mengambil ginjalku, namun aku menjelaskan semuanya.
Sekarang aku, Mama dan Papa sudah berada di Bandara Internasional Changi Singapura. Kami menuju Bandara Soekarno-Hatta terlebih dahulu untuk membereskan pekerjaan Mama di Jakarta, lalu kami terbang ke Ngurah Rai kembali.
Kondisiku semakin lama semakin memburuk, badanku semakin lemas. Dan ternyata tanggal kematianku adalah 28-01-2012. Aku melihat dari alam sana, kedua orangtuaku menangisi kepergainku seperti mereka menangisi kepergian Kak Savitri. Mama menyesali semua perbuatannya pada masa lampau terhadapku, begitupun Papa, tapi sekarang aku bahagia, aku berkumpul bersama Papa, Mama kandungku di akhirat dan Kak Vitri disini. Ma, Pa, aku menuggu Mama dan Papa disini, makasih semuanya, aku bahagia sekarang.
Tamat~
Maaf yah kalo ada salah kata, gue males ngoreksi, ngebet pengen dipostingJ mwhahah, commentnya dongsJ


Jumat, 16 Desember 2011

Aku dan Hidupku part 2 (cerpen)

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 06.11 4 comments

Ini lanjutan dari Aku dan Hidupku part 1, bila belum mebaca saya sarnkan untuk membacanya terlebih dahulu dengan cara mengklik link ini ® http://teenactive-salsabila.blogspot.com/2011/04/kesepian-cerpen.html
                “Pa, terus kita harus gimana, Pa? Aku mau ketemu Kak Savitri, Pa. Ayo, antarkan aku, Pa!”
                “Sayaaaang.” Papa membelai wajahku dengan kedua tangannya.
                “Papa, kenapa diam, Pa?”
                “Aku tahu, Pa. Di dunia ini gak ada lagi orang yang sayang sama aku, Pa. Cuma kak Savitri yang sayang sama aku, dan sekarang aku harus kehilangan dia? Dimana keadilan tuhan, Pa? Dimana?” aku menangis dan tertunduk lemas. Tak lama, aku pingsan.
                “Er, kamu dimana sekarang? Haruskah aku ke tempat kejadian? Laira pingsan dikamarnya sekarang.” (Bila sedang tidak ada aku, papa memanggil mama dengan nama asli, begitupun sebaliknya)
                “Aku butuh kamu, Fi disini. Sekarang saya masih berada di daerah sekitar bali, mungkin ini berada di perbatasan antara Bali dan Jawa Timur.” Aku tersadar, aku mendengar pembicaraan mama dan papa lewat telefon. Mama, tak perduli aku pingsan? Aku memang tak berarti bagi mama.
                “Di daerah mana kamu, Er? Setelah Laira sadar aku akan kesana.”
                “Aku ada di Rumah Sakit yang ada di sekitar Teluk Bali di Kota Penginuman, tapi, kamu naik apa? Tidak mungkin ada bandara di daerah seperti ini?”
                Papa hening, akan berapa lama papa sampai tujuan, bila naik mobil.
                “Kahfi? Baiklah, kamu tidak usah kesini. Nanti aku beri kabar.”
                “Tapi, Erina?”
                “Percayalah.”
                “Okey,”
Papa menutup telefonnya, aku masih bingung dengan semua kejadian ini, Kak Savitri merupakan penghubung antara mama dan papa, setelah Kak Savitri tidak ada? Mungkinkah aku benar-benar tidak punya mama? Jahat sekali hidupku meperlakukanku. Akupun berdo’a kepada Allah.
“Pa?” kataku.
“Ra, kamu sudah sadar? Syukurlah.”
“Pa, sebenarnya mama sayang tidak, Pa sama aku?”
“Kenapa kamu nanya itu? Jelas mama sayang, dong.” Ujarnya tersenyum.
“Papa yakin? Tadi di telefon, mama tidak menanyakan kabarku, setelah papa beri tahu kalau aku pingsan, tapi mama mengacuhkannya. Mama tidak perduli sama aku, Pa. kalau misalnya aku ikut dalam pesawat itu, dan aku tenggelam dan aku meninggal, apa mama juga tidak perduli dengan aku, Pa?”
“Kamu. Sst, don’t say it!”
“Pa, terus kita harus gimana, Pa?” papa menyalakan TV yang ada di kamarku, dan mencari-cari channel yang sedang menyiarkan berita.
“Kita tunggu kabar dari mama.”
Tak lama handphone Papa berdering.
“Kahfi?”
“Iya, Ma?” papa menggunakan kata ‘mama’ karena ada aku disampingnya.
“Savitri ditemukan dalam keadaan luka berat, dia akan dirawat di Jakarta. Dan hari ini juga akan diterbangkan ke Jakarta.”
“Alhamdulillah, oke, Ma nanti usai adzan maghrib Papa akan ke Jakarta.”
Papa menutup telefonya.
“Kakak gimana, Pa?’
“Dalam keadaan luka berat, kita ke Jakarta habis manghrib, kemaskan barangmu sayang. Kita akan ke Jakarta beberapa hari, nanti Papa yang akan menelfon wali kelas kamu karena kamu tidak masuk.”
“Iya, Pa. Pa?”
“Kenapa lagi?”
“Ayo ikut aku sebentar keluar.” Aku berlari ke luar sampai ke pantai, “Pa, kemarin aku disini sama Kak Savitri, Pa melihat sunset. Kak Savitri suka tempat ini, ia mempotret keindahan tempat ini, Pa. Dan papa tahu, Pa? Kamera Kak Savitri ketinggalan disini, mungkin Kak Savitri berpesan agar aku menjaga kameranya, dan mungkin potretan indah itu akan menjadi kenangan aku dengan Kak Vitri. Tapi, aku nggak kuat buat buka semua foto-foto di dalamnya, senyumnya selalu membuat aku menangis, Pa. Karena aku merasakan ketulusan dari dalam dirinya. Dia sangat sayang, aku juga sebaliknya. Dan sekarang dia kritis. Aku harap aku bisa seperti kemarin bersama Kak Savitri, Pa.” tersadar aku menangis. Kenapa hidupku selalu penuh dengan tangisan? Apa aku ditakdirkan untuk terus menangis? Apa, menangis adalah hidupku?
I'm sure God will give the best for us, Keep patient, dear. God will give our the best. Ayo, kita pulang. Bereskan semuanya.”
“Papa, pulang duluan aja.”
“Yaudah, tapi kamu jangan lama-lama ya sayang.”
“Iya, Pa. Percaya sama aku.”
Aku duduk di bangku panjang yang menghadap ke arah sunset. Aku melihat bayangan Kak Savitri sedang menari-nari bersamaku seperti kemarin. Bayangan itu telah pudar sekarang. Karena matahari telah tenggelam.
“Raraaa? Udah malem, Ra? Kenapa kamu sendirian?” (Rara panggilanku di sekolah) tanya Petra.
“Aku cuma mau liat sunset aja ko, Tra. Kamu sendiri?”
“Habis beli, spagheti buat makan malam. Aku antar pulang ya?”
“Gak usah, Tra. Aku masih mau disini.”
“Aku tinggal dulu ya, Ra.”
“Okey, Tra.”
Aku lekas berdiri, tapi, ketika aku berdiri aku dihampiri oleh seorang gadis yang menurutku seumuran denganku. Dia menyapaku.
                “Hey?”
                “Oh, hey. Who are you?”
                “I’m a tourist, my name is Caroline. I come from Germany.” sapanya tersenyum padaku.
                “Oh, my name is Laira. What’s wrong?”
                “I saw you cry on the chair, is it true? Or am I wrong to see?
                “Yes, it’s true. Why?”
                “Oh,  sorry if you do not like me asking about it to you, I want to ask, where is this road?” tuturnya sembari  memberi saya sehelai kertas, yang bertuliskan nama jalan disini.
                “Sorry, Carol. I don’t know. Excuse me i must go, my father waiting me at home.”
                “Oh, yeah allright. Nice to meet you.”
                “Nice to meet you to.” Aku pergi meninggalkan caroline dan aku pulang ke rumah. Sampai di rumah papa berdiri berjalan bolak-balik layaknya setrika. Aku yakin papa mengkhawatirkan aku karena aku belum pulang.
                “Assalamu’alaikum, Pa.”
“Lairaaaaa. . kenapa lama pulangnya? Papa khawatir sama kamu, sayang.”
“Aku tadi ketemu Caroline, Pa. Dia nanya alamat, alamat rumahnya Petra, Pa. tapi tadi aku bilang nggak tahu sama dia. Yang patut papa khawatirin itu Kak Vitri, Pa. Bukan aku.”
“Kenapa kau bilang gak tahu sayang? Kamu kan anak papa juga.”
“Aku takut papa kelamaan nunggu aku. Pa, aku sholat maghrib dulu ya, Pa.”
Usai sholat, aku mengemaskan barang-barang ke dalam koperku yang berwarna ungu, hadiah dari nenek, aku ingat nenek–aku kangen nenek, nenek dari mama. Kalau misalnya dia ada disampingku pasti aku nggak akan broken home kayak gini, nenek gak setuju kalau papa sama mama pisah. Nenek yang selalu ngingetin mama biar gak terlalu sibuk sama kerjaannya. Ku raih kamera Kak Savitri ku peluk erat. Lagi-lagi aku menangis, aku berbicara dalam hati, tuhan kenapa aku selalu menangis, tak bosankah kau membuatku menangis, sesungguhnya apa salahku tuhan, jangan adakan lagi tangis ini, ku mohon.
“Ra? Udah selesai?”
                “Udah, Pa.” aku sama papa langsung ke Bandara, dan aku tertidur di pesawat. Setelah sampai, aku dan papa ke hotel dekat Central Park. Kami mendapat kabar kalau Kak Savitri dirawat di Siloam Hospitals , Kebon Jeruk. Aku segera kesana. Sampai di sana, aku mencari kamar Kak Savitri. Aku kaget melihatnya, Kak Vitri seperti mumi yang dibungkus aku lirih banget liatnya, aku lirik ke arah handphone, wallpapernya photo aku dan Kak Vitri yang cantik, lirih dan sedih banget ketika ngeliat keadaan Kak Savitri kayak gini. Gak usah di ceritain lagi, aku meneteskan air mata. Aku masuk ke dalam kamar tersebut.
                “Mamaaaaa.” Aku memeluk mama dengan refleks. Mamapun juga. Betapa beruntungnya kalian semua yang bisa dipeluk mama setiap hari, aku? Sekian tahun aku menunggunya.
                “Ra . . .” Kak Vitri berbicara terbata-bata.
                “Kakaaaaaaaaaaak. Aku bawa kamera kaka. Kita ke Bali lagi yuk, Ka.”
                “Pa, Ma, Ra, a-ku gak ku-at ra-sa-nya sa-kit ba-nget.”
                “Kaka harus kuat ya kaaaa.. aku disini, Kak.”
                “Kalau misalnya kamu gak sanggup, Papa rela, Vit.”
                “Mama juga, Vit.”
                “Mama sama Papa ngomong apa sih, aku mau Kak Vitri bertahan. Kalian semua jahat.”
                “Kasian kakak kamu sayang, kita harus rela.” Tak lama mama bilang demikian, tampilan layar monitor yang menunjukan detak jantung, berubah menjadi lurus semua. Pertanda, nyawa Kak Vitri sudah dicabut oleh yang kuasa.
                Pemakamanpun berlangsung, kini tinggal aku sendiri, tak tahu sanggup atau tidak melanjutkan hidup ini. Menangis dalam kesendirian.
Ketika sampai di hotel, aku membuka jendela hotel dan menggoreskan penaku pada sehelai kertas.
Kematian merupakan takdir tuhan
Kematian datangnya seketika
Kematian menjemput orang yang ku sayang
                Aku benci kematian
                Sangat benci kematian
Tiba-tiba angin berhembus kencang, saat aku mau mengambil pulpen karena pulpenku habis, kertasnya melayang keluar kamar.

Buat lanjutannya baca di Aku dan Hidupku part3 yahJ
 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review