Rabu, 09 November 2011

The first time have their own savings in the bank

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 06.50 2 comments
Siang sekitar pukul 12 kurang bel sekolah gue udah bunyi–bel SMPN3 menandakan anak-anak boleh pulang, gue dan teman-teman lainnya bubaran. Sampe di rumah sekitar pukul 01.00 lewat. Seperti biasanya gue dijemput salah satu orang tua gue, di depan gerbang, dikarenakan letak rumah gue yang masih jauuuhhhh banget, yegak? Sampai di rumah gue langsung menghampiri mama, untuk salim. Dan mama bilang,
"Nanti jadi mau buka rekening baru?” dengan antusias, excited, gue jawab.
“Asekkk, mau lah, Ma. Mauuu.. kapan, Ma kapan?” gue girang banget, udah lama banget gue pengen punya tabungan sendiri di bank (maaf lebay).
Terus mama jawab,
”Yaudah sekarang ganti baju dulu, sholat dulu, makan dulu, nanti kalau udah siap, ya pergi ke bank.” tutur mama.
“Yess, yaudah.” Gue ke kamar, sebenernya sih gue gak ganti baju dulu (hehe:p) gue tidur-tiduran dulu sambil asyik twitteran padahal   mata ngantuk banget, tapi, gak tau kenapa twitteran itu hal yang paling menyenangkan (bagi saya lhoo yaJ).
Mama nyamperin gue di kamar,
”Katanya mau nabung, malah tiduran.” ucap mamaku tercinta:*.
“Entar dulu, Ma. ngantuk banget.” Gak mau berlama-lama lagi, gue off dari twitter. Dan menjalankan semua perintah mama yaitu langsung ganti baju, makan dulu, baru sholat. Selesai. Tiduran sebentar lagi baru setengah dua. Kata mama banknya tutup jam 2 atau jam 3-an. Alhasil, gue langsung bangung, nyisir, dan langsung nyari mama di segala sudut ruangan rumah gue, mencari sesosok wanita–mama maksudnya. Dan mama ternyata ada di ruang kantor. Bisa ditebak, gue bilang udah siap. Terus kata mama,
“Yaudahambil dulu uang tabungannya di kaleng (tempat gue menyimpan uang sebelumnya).” Gue menuruti perintah mama, mengambilnya dan memberikan uang tabungan gue. (gak usah pake nominal angka yaJ nanti disangka pamer, ish!)
And then, gue pergi ke bank kala itu sama mama, kami pergi ke salah satu bank negeri milik pemerintah, dengan alasan bila terjadi sesuatu akan mudah ditangani–bank BTN (gue bantuin promo itu bank:D). Dar rumah ke bank, nggak jauh naik motor sekitar 10 menit bahkan kurang dari 10 menit. Sampai di depan bank tujuan. Satpam membukakan pintu, dan kami masuk ke dalam.
Tujuan kami kesini, bukan semata-mata untuk buka rekening baru, tapi mama juga igin menabung. Yaa, kami nabung terlebih dahulu, usai nabung. Gue sama mama duduk di sofa customer khusus untuk para nasabah yang ingin membuat rekening baru, berhadapan dengan pegawai dari bank, bernama Destry (gue baca dari nametagnya, padahal dia gak ngajak kenalan) mama nanya ini itu kepada pegawai bank itu, dan katanbya gue termasuk dalam kategori tabungan BTN juara, yang diperuntukan bagi anak yang berusia dua belas tahun ke atas s/d dua puluh tiga tahun, kelebihannya tidak ada biaya administrasi setiap bulanny (lagi-lagi gue seperti pegawai bank, yang sedang menulis sebuah cerpen, untuk promosi).
Gue disuruh mengisi beberapa formulir yang terbuat dari kertas ragkap dua yang berjumlah tujuh lembar, banyak gak? Yang bodoh pasti tau jawabannya. Formulir pertama gue semangat ngisinya, begitu pula dengan formulir ke-2 dan ke-3, tapi semangat tak berpihak pada formulir ke-4 dan seterusnya, dan gue kasih ke mama (capek lahyaw.) Terenggggg, akhirnya usai. Gue protes ke pegawainya.
“Banyak banget, mbak formulirnya.”
“Iya, dek. Memang.”
Pegawai bank itu langsung menyalin semua data-data ke dalam komputernya. Pegawai itu sibuk dengan komputernya, gue sibuk dengan handphone gue (lagi smsn sama Farah, Henza dan Jehan saat itu), sedangkan mama sibuk dengan bacaan di depannya tentang deposito. Setelah pegawai itu selesai menyalin, pegawai itu mengeluarkan buku tabungan, lalu memasukannya ke dalam sebuah alat, ternyata menulis nama gue secara otomatis, lalu pegawai itu menyuruh mama untuk tanda tangan di buku tersebut. Lalu pegawai itu menyuruh mama menyebutkan nominal uang yang mau dimasukkan ke dalam rekening baru tersebut. Dan di catat ke dalam kertas rangkap dua, yang biasa digunakan para manusia untuk menabung, lalu gue di kasih amplop berisi ATM (yee gue punya ATM pribadi:D) dan beberapa kertas yang berisi ketentuan, layanan serta penjelasan-penjelasan lainnya. So, kami diminta untuk ke pegawai selajutnya untuk meminta amplop berisi pin, dan memberi kertas berisi nominal uang yang ingin di tabung.
Lalu pegawai itu, memberi amplop berisi pin rahasia dan hadiah kecil–pulpen maksudnya. Akhirnya gue punya tabungan pribadi sekarang, diumur gue yang ke-13 tahun, gue punya tabungan pribadi? Bangga. Iya gue bangga. Sebenernya tujuan gue nabung, Cuma buat biaya kuliah nantinya. Dan kini, ATM, buku tabungan, amplop pin ada di kamar gueJ.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Cinta Sang Penyandang Cacat Kepada Sang Ibu.

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 05.38 0 comments


Kemarin hari, jum’at tepat hari sumpah pemuda, tanggal 28 Oktober 2011. Sehabis saya pulang dari rumah sahabat saya, saya menaiki sebuah angkot yang bertuliskan ‘Regency’ yang biasa saya naiki sehari-hari. Siang itu saya pulang agak telat dari biasnya seitar puku 03.00 siang karena ada kegiatan yaitu mebuat mading kelas.
Saya masuk ke dalam sebuah angkot, dan duduk dengan nyaman. Sembari menunggu angkot berjalan saya mengotak-atik handphone saya. Usai puas mengotak-atik saya letakan handphone di dalam tas. Tak lama ada seorang bapak-bapak yang menurut pandangan saya berumur 40-an ke atas, berjalan dengan pincang, ia mempunyai dua kaki. Tetapi ia tidak dapat berjalan sempurna, mungkin kedua kakinya tidak dapat menopang tubuhnya dengan sempurna, sampai-sampai bila melihat ia berjalan, serasa melihat orang normal yang sedang berjalan lalu hampir jatuh namun kembali berjalan.
Ia berjalan mendekati angkot yang saya tumpangi, lalu ia berbicara kepada supir angkot, “Saya bisa sampai di Serpong enggak, Pak? Naik angkot ini?” katanya sang bapak tadi.
            “Oh, bisa, Pak. Emang bapak mau kemana?”
            “Ke Gunung Kapur. Tapi, Pak saya cuma punya uang 3000 rupiah. Bisa, Pak?”
            “Bisa, Pak. Bisa.” Untungnya sang supir berbaik hati. Sang bapak tadi masuk ke dalam angkot dengan susah payah. Sehingga membutuhkan pertolongan. Ia mengangkat kaki kananya terlebih dahulu lalu diikuti ia mengangkat kaki kirinya, saya berkata dalam hati, “Betapa beruntungnya aku Ya Allah, dengan mudah bisa naik ke dalam angkot ini. Tidak seperti bapak itu.”
            “Maaf ya, Bu. makasih, Bu.” kata sang bapak kepada seorang Ibu yang menolongnya masuk ke dalam. Sampai di dalam, sang bapak bercerita kepada seorang bapak lainnya dan seorang ibu yang tadi menolongnya, kurang lebih isinya seperti ini. “Saya dari jam 5 pagi, muter-muter ke daerah sini, sampai sekarang. Gak nyampe-nyampe juga, saya mau ke gunung kapur, tadi saya ditelfon Ibu saya muntah darah, dan udah sakit-sakitan. Saya ya sebagai anak, mau secacat apapun saya, ya kalau orang tua sakit ya harus di jenguk, biar dengan uang seadanya juga. Namanya anak ya, Pak. Yah, Bu” katanya sembari bertanya. Bapak dan ibu tadi mengangguk.
            “Bapak, gapunya saudara, Pak?”
            “Ya, sodara-sodara saya gak ada yang mau bantuin saya. Saya yah ikhlas aja, ini cacat udah sejak lahir emang begini, saya terima aja.  Biarin saya mau kemana juga  yang penting saya bisa ketemu ibu saya. Biar sakit juga.” Sumpah saya menyimak perkataan sang bapak, hati saya tersentuh, saya saja yang biasanya disuruh mama ke warung, kadang suka mengelak, tapi bapak itu? Berjalan dengan pincang  dari jam lima pagi menyusuri jalanan panjang, demi ibunya, dan mencari abang tungkang angkot yang rela dibayar tiga ribu sampai sekarang? Dan akhirnya ada juga yang mau, Ya sekarang pukul TIGA SORE. Waktu yang lama. Saya mengorek isi tas, saya berharap saya ada sisa uang jajan yang lebih. Alhamdulillah ada, tapi, saya malu memberinya.
            Sedangkan bapak itu terus bercerita tentang ibunya dan tentang dirinya, banyak hal yang bisa saya ambil dari cerita bapak tadi, ternyata tiga ribu rupiah bagi bapak itu adalah sangat sangat sangat berharga. Bapak itu terus bercerita, saya semakin tersentuh. Saya ingin sekali memberi uang ini. Tapi, saya malu. Dan entah darimana saya mendapat ide, untuk menaruh uang itu di atas rok saya yang hitam panjang itu, dan ketika saya turun saya akan menjatuhkannya, yah mungkin itu bisa terjadi, entah karena saya korban sinetron atau karena ini memang perintah Allah.
            Gang rumah saya semakin dekat, saya bersiap, saya berdo’a, “Ya Allah semoga ini berhasil.” Dan alhasil saya berhasil menjatuhkan uang itu, saya keluar angkot lalu saya membayar. Bapak itu berkata, “Dek, uangnya jatuh.”
            “Udah ambil buat bapak aja.”
            “Makasih, yaa, Dek.”
            “Iya, Pak sama-sama.”
Kisah nyata itu terjadi tepat di depan mata saya saat itu, saya kira berjalan menyusuri jalan hanya dengan uang beberapa rupiah hanya sebuah cerita belaka. Ternyata bukan, itu kisah nyata, makasih bapak, bapak telah membuat saya lebih bersyukur atas apa yang saya dapat. Semoga ibu bapak cepat sembuh.

Kamis, 20 Oktober 2011

Tolong Jangan sakiti kami

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 06.17 0 comments

Penulis    : Annisa Khairani dan Salsabila Tantri Ayu

TOLONG JANGAN SAKITI KAMI


Dengarlah tangis kami
Dengarlah jeritan kami
Dengarlah keresahan kami
Sekali lagi dengarkan kami
Janganlah menganiaya kami lagi
     Janganlah menyakiti kami lagi
     Janganlah mengasari kami lagi
     Janganlah kau melukai kami lagi
Apa kau ikhlas merawat kami?
Apa kau ikhlas mengasuh kami?
     Apa kami beban?
     Apa kami pembawa malapetaka?
     Apa kami sampah?
     Sebenarnya kau anggap apa kami?
Rawat dan asuhlah kami, dengan kasih cintamu!
Rawat dan asuhlah kami, dengan ketulusan!
Rawat dan asuhlah kami, dengan kelembutan!
Rawat dan asuhlah kami, dengan keikhlasan!
     Jangan kau rawat dengan kekejaman
     Jangan kau rawat dengan kebencian
     Kami takut bila kau rawat seperti itu
     Dan kami sakit hatibila kau rawat seperti itu
Diri kami bukan hewan yang bisa disiksa
Dan kami juga manusia biasa yang lemah
Mohon untuk tidak sakiti kami lagi
Kasihanilah kami, pahami kami sebagai anakmu
     

Jumat, 07 Oktober 2011

This is not fair!

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 07.40 0 comments

Now I talk about a part of my life, at school I have some friends who are quite familiar. This time I feel there is injustice in my class, I havesome friends who are selfish, arbitrary, want to win themselves quasi in power. Her name is (I disguise her name) become Early. She unfairly when she instructed to another friend not to be noisy, but she is very noisy, when she instructed  must be picket, she did not picket, whenshe instructed other not cheat on she own cheating, many other things that I think this is not fair, she selfish!
Did she never think? How to be treated as such, really it's not tasty!
A lot of my friends feel uncomfortable friendship with her, but with character a selfish, overbearing, emotional then everyone afraid of her except two of my friends (again, I disguised their name become Cynthia and Maudy) Via afraid to them both. I believe Via afraid to  Maudy and Cynthia because Maudy beautiful, rich, well, known and if so angry their friends will defend Maudy, but why does not she afraid to me? I was too weak, as well with Chinty, Via afraid to argue with Chinty because the character of Chinty a talkative, a complaint and so on.
I feel most weak, I can not do anything else. I don’t want to be there problems, which I question now, why a friendship like this? There must be differences in the characters, richness, beauty? And it is so affects of my friendship? I was really weak. Until one night I cry, because a incident in school.
I feel in my friendship they are looking for isn't friendof cool, kind and intelligent. But friends are rich,beautiful, hanging out they are seeking. I actually left out some events that would not seem to me to tell.Until one night I cry, I said
God why I was made to be a weak human
It feels too easy, to being hurt
It's hard to change,
I want to be the bad guy, who can do it
Would not it have to appreciate a friend
Why are they all ignore it /
Why in this world, evil people whose life is good
Why do good people
 in life just is not good
Why did you let the bad guy survive?
If you destroy this world would be better?
Now all theories material being taught or the teacher is not important to her, which she most important: notonly come to school to study. I think the world isstrange, I hope people do not always be hurted withthe bad guy!
Maaf kata-katanya kalau salah, masih belajar 
Bottom of Form


Rabu, 28 September 2011

Big Salute For Giri :)

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 07.09 0 comments

Gue salut sama Giri J
Gue berniat nulis ini karena gue salut banget sama sahabat gue yang namanya Giri Sarah Mustika, pagi sekitar pukul 9.00 atau 10.00, tanggal 29 September 2011 ada kejadian yang membuat gue pengen nulis sebuah cerita ini.
Bermula pada saat jam pelajaran, tadi usai pelajaran olahraga sekitar pukul 08.00 lewat ada kesempatan buat istirahat, rata-rata semua anak jajan, guepun begitu, gue menuju koperasi sekolah, gue beli lontong buat pengisi perut yang kebetulan gue belum sarapan pagi itu, sama beli permen. Mungkin terlalu mendetail cerita gue, back the story..
                Usai jajan gue pun langsung naik ke atas, menuju kelas bareng sama temen-temen lainnya, sampe di kelas, gue, Donna, Dewi makan lontong terus si Giri bilang “Gue pengen deh makan lontong.” Si Dewi jawab “Yaudah beli!” gue sama yang lain diam, terus giri nanya “Ada yang mau nganterin gak?” gue jawab “Lagi makan, Gir.” Terus si Dewi juga nyambung “Sama.” Donna, Muti sama Maura diem gak jawab. Lalu si Giri bilang “Bener nih, gak ada yang mau ikut? Yaudah.”. Giri pergi meninggalkan kita yang duduk.
      Disitu gue ngerasa bersalah, kenapa gue gak nganterin Giri? Kenapa gue egois? Padahal Giri sering nganterin gue jajan maupun nganterin gue ke toilet sekolah, I feel guilty, and I regret, yeah Giri i’m sorry for my selfishness.
      Tidak terlalu lama dari itu guru Bahasa Indonesia datang. Kita kembali belajar dilanjut dengan kejadian berikutnya kala itu kita lagi makan bareng, dari rumah kita janjian bawa bekal (tujuan : hemat uang). Dan saat Muti gak bawa bekal, berhubung Muti gak bawa bekal Muti juga dapat tugas dari guru BP disuruh nganterin LKS anak-anak ke ruang BP, nah disini giliran Muti yang nyari temen kita semua udah lagi makan, di meja gue ada Cut, Chacha, Dewi sama Giri sedangkan Muti seraya linglung nyari temen.
Dengan bekal setengah dimakan,
“Yaudah yuk, Mut sama aku.”
“Yah, habisin aja makananannya gapapa kok aku.”
“Udah hayoo gapapa.”
“Serius, Gir?”
“Iya, ayo!”
Lagi – lagi gue merasa bersalah kenapa gue egois lagi, kenapa gak ngenterin Muti disini gue bener-bener salut sama Giri, padahal tadi pas dia mau jajan ke koperasi kan gak ada yang nganterin tapi kali ini dia ikhlas menunda makannya demi nganterin Muti ke BP.(Maafin aku, Mut.) gue emang bukan sahabat yang baik, gue egois! Dari hati yang terdalam gue menyesal, (maaf terlalu lebay).
      Usai makan, gue dapet tugas untuk mengumpulkan biodata. Sebenernya tugas itu udah dari seminggu yang lalu, soalnya ada sekitar 12 anak yang belum mengumpulkan, gue ajak Giri.
      “Gir, temenenin mintain biodata yuk!”
      “Yaudah, yuk!”
Gue kira dia gak mau gara-gara tadi gue gak nganterin ke koperasi, Giri bantuin gue mengumpulkan biodata, thanks Giri ;). Hari ini gue bener – bener saaluuutttttt sama Giri, gue baru sadar gue bukan sahabat yang baik, gue egois dan Giri adalah sahabat yang baik banget buat gue, BIG SALUTE, BIG THANKS GIRIIIIIIII..... Forgive me ;)

Sabtu, 24 September 2011

thanks for someone

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 07.58 0 comments

#poetryteen
Versi inggris
Thanks For Someone
I found a light smile
I find the light
In times like these, as I dropped
I find the light
Which makes me excited
The light of happiness, light spirit
Light my life, the light in the fall
Believe it with the motherland
That said after dark and bright is rising
You replace the figure
You're waiting for me for this faithful
As long as I live
I just realized,
I've got someone who cared for me
namely you
Sorry just said thank you
What can I say
Thanks for someone.



Versi Indonesia
Kutemukan cahaya senyum

Ku temukan cahaya
Disaat seperti ini, saat aku terpuruk
Ku temukan cahaya
Yang membuatku bergairah
      Cahaya kebahagiaan, cahaya semangat
      Cahaya hidupku, cahaya dalam keterpurukan
Percaya dengan sang ibu pertiwi
Yang mengatakan habis gelap terbitlah terang
      Kau menggantikan sosoknya
      Kau setia menungguku selama ini
      Selama aku hidup
Aku baru menyadarinya,
Aku punya sesorang yang peduli
Yaitu kamu
      Maaf hanya kata terimakasih
      Yang bisa aku ucapkan
      Thanks for someone.
By: Salsabila Tantri Ayu


Gak Ada Kata Lain selain ‘Iri dan Nyesek’

Posted by Salsabila Tantri Ayu at 07.25 0 comments



 #articelteen

Gak Ada Kata Lain selain ‘Iri dan Nyesek’

Jadi, ceritanya gini, gue punya beberapa sahabat. Dan kebetulan, bukan kebetulan sih di dunia ini kan gak ada yang namanya kebetulan. Jadi takdirnya salah satu sahabat gue yang namanya Mutiara itu sakit. Gue dapet kabar ketika dia sms gue katanya lagi diinfus tapi dirawat di rumah.

       Sesegera gue sms pacarnya, si Yogi dengan berbagai macam pikiran alhasil gue sama yogi sepakat buat jenguk si Muti besok (kamis, 22 sepetember 2011). Gue ngabarin temen-temen yang lain, buat nymbang buat beli buahlah seenggaknya.

       Setelah dana terkumpul ternyata yang mau ikut banyak sekitar sepuluh orangan lah. Gue sama Cut mampir ke toko buah dulu, sementara temen yang lain langsung OTW rumah Mutia, usai beli buah gua juga ngikutin yang lain langsung OTW rumah Mutia.

       Sampe disana temen-temen udah ngumpul, si Yogi (pacarnya Muti) duduk di samping bawah kasurnya Muti, disitu aja gue idah envy (iri) ngeliatnya, si Muti bisa punya pacar yang respect banget sama dia, sedangkan gue? Boro-boro? *curhat*.

       Kita disana ngobrol-ngobrol taukan pasti rasanya kalo kita lagi sakit terus pacar ada di smping kita? Hoalah, kita ngobrol bahas apa aja yang bisa dibahas, bang Raditya Dika juga kita bahas waktu itu. Gak lama mamanya muti sms gini “Dek, mama tinggal dulu ya, kalau mau makan nanti sms Hilal.” Dan kebetulan yang baca itu si Septiya kata septiya “Eh, eh, Mut ini gimana? Mau aku ambilin buburnya? Dimana, Mut?” tanya Tiya. “Itu kalo gak salah ada di atas box, deh, Tiy. Tadi mama kau bilangnya ada disitu.” tutur Muti. “Bentar, Mut.” Setrelah diambil si Tiya ngomong gini “Mut, Yogi aja ya yang nyuapin, mau kan? Mau?”. Si Cut nyamber “Harus mau lah.”, anak-anak sedikit ribut dan Nge-Ciyein gitu, and this is the moment, disini gue sama Giri envy (iri) besar-besaran Ya Allah Yogi perhatian banget sama Muti, sampe nyuapin, pada saat itu gue nyesek ngeliatnya, dan saat itu pula gue ngerasa gue lagi nonton FTV.

       Abis disuapin anak-anak heboh nyuruh Yogi ngelap mulutnya Muti Cuma kata Muti “Apaan orang gak berantakan kok, udah gausah, Yog.” Abis makan Muti juga tak lupa minum. Abis minum kembali lagi kita Nge-Ciyein si Muti nyesek sih gue, tapi tak apalah, gue inget banget kata-kata emas dari salah satu temen gue si Syafira Eka Pratiwi dia bilang “SEMUA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA.” And then gue kembali ceria, sekitar 2jam-an disana, kita semua memutuskan untuk pulang, sebelum pulang ada satu lagi momen yang buat gue envy dan merasa kesepian, sebenernya si Giri juga ngerasain hal yang sama kayak gue. Back the topic~ one moment make me envy is Yogi Shake hands to (bersalaman) Muti with say “Muti aku pulang dulu yah :).” terus Muti jawab “Iya, makasih yah J.” Gila ngeliatnya ganahan ey, hati teriris deh.

       Maaf ya kalo lebay, maklum masih labil saya :) Follow my twitter :)By: Salsabila Tantri Ayu


 

Salsa's blog Template by Ipietoon Blogger Template | Gadget Review